: V
V, kita sama-sama tahu, bahwa hidup tak mesti berjalan
pada jalurnya. Kadang-kadang, ia memilih untuk mengambil jalan pintas—jalan
lain yang bahkan tak kita kehendaki. Lalu kita akan menyesal, atau kecewa, pada
jalan-jalan yang tak pernah kita ketahui ke mana ujungnya. Sementara dada kita
yang terlanjur sesak atau telinga kita yang panas, cenderung selalu menolak
nasihat-nasihat paling bijak, sekalipun.
Barangkali saat-saat macam ini, V, di mana aku kembali
terjerembap pada lembah-kesedihan, aku selalu mengingat kata-katamu untuk terus
bertahan.
"Penderitaan
paling hebat hanya terjadi sebentar saja," katamu. Dan waktu itu, aku
mengangguk saja. Semacam tak mau lebih banyak lagi mendengar nasihatmu.
Nyatanya, kini aku benar-benar tahu, V. Dan kata-katamu waktu itu, selalu
relevan untuk kupraktikan kapan aku mulai merasakan kesakitan.
Barangkali rasa sakit milikmu kini masih ada dan tetap
terasa, V, seperti masih adanya sakit yang kumiliki. Tapi aku ingin kita
sama-sama merawatnya, sebaik mungkin, agar mereka lekas sembuh—bersamaan dengan
membaiknya hubungan kita, tentu saja.
Maka kenalilah kembali aku, V; mula-mula namaku, kemudian
suaraku, kenangan kita berdua, apa saja: foto kita berdua, tawa kita, sedih,
marah, pertengkaran, juga pertimintaan maafku padamu atau sebaliknya. Berikutnya
izinkan aku memasuki ruangan pribadimu—hatimu. Lagi. Dan mari mulai kita susun
lagi hari-hari agar lebih baik dari yang sudah-sudah.
Lalu genggam tanganku, V, dan tenanglah: semua akan baik-baik saja.
Probolinggo,
Selasa, 17 Desember 2013.
*Catatan dalam bus
*Gambar dari sini.


0 komentar:
Posting Komentar