Senin, 23 Desember 2013

: V

V, kita sama-sama tahu, bahwa hidup tak mesti berjalan pada jalurnya. Kadang-kadang, ia memilih untuk mengambil jalan pintas—jalan lain yang bahkan tak kita kehendaki. Lalu kita akan menyesal, atau kecewa, pada jalan-jalan yang tak pernah kita ketahui ke mana ujungnya. Sementara dada kita yang terlanjur sesak atau telinga kita yang panas, cenderung selalu menolak nasihat-nasihat paling bijak, sekalipun.

Barangkali saat-saat macam ini, V, di mana aku kembali terjerembap pada lembah-kesedihan, aku selalu mengingat kata-katamu untuk terus bertahan.

"Penderitaan paling hebat hanya terjadi sebentar saja," katamu. Dan waktu itu, aku mengangguk saja. Semacam tak mau lebih banyak lagi mendengar nasihatmu. Nyatanya, kini aku benar-benar tahu, V. Dan kata-katamu waktu itu, selalu relevan untuk kupraktikan kapan aku mulai merasakan kesakitan.

Barangkali rasa sakit milikmu kini masih ada dan tetap terasa, V, seperti masih adanya sakit yang kumiliki. Tapi aku ingin kita sama-sama merawatnya, sebaik mungkin, agar mereka lekas sembuh—bersamaan dengan membaiknya hubungan kita, tentu saja.

Maka kenalilah kembali aku, V; mula-mula namaku, kemudian suaraku, kenangan kita berdua, apa saja: foto kita berdua, tawa kita, sedih, marah, pertengkaran, juga pertimintaan maafku padamu atau sebaliknya. Berikutnya izinkan aku memasuki ruangan pribadimu—hatimu. Lagi. Dan mari mulai kita susun lagi hari-hari agar lebih baik dari yang sudah-sudah.

Lalu genggam tanganku, V, dan tenanglah: semua akan baik-baik saja.
Probolinggo,
Selasa, 17 Desember 2013.

*Catatan dalam bus

*Gambar dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar