: Ibu
Seperti manusia lainnya, aku memiliki beberapa
keinginan-dan-permintaan yang tak bisa begitu saja mudah diucapkan atau
disampaikan—apalagi padamu. Beberapa kali ketika kita bertemu, berpapasan, atau
sedang duduk santai tak melakukan kegiatan apapun, kuakui, ingin sekali aku
mengatakan semua itu. Tetapi lidahku seperti kaku. Kata-kata yang telah
berjam-jam lalu kurangkai sedemikian rupa mendadak berantakan.
Seberapa pentingkah, atau seberapa beratkah
urusan yang ingin kusampaikan ini—hingga membuatku selalu menjadi manusia
paling pengecut seperti ini?
Entahlah.
Jika dibilang penting, tentu saja penting
sekali. Jika ditimbang seberapa berat hingga berkali-kali aku harus menuai
kecemasan untuk mengatakannya, sebenarnya tak terlalu berat. Aku bisa saja
mengatakan ini padamu sewaktu-waktu. Saat kau memasak, misalnya. Atau saat paling
tenang, ketika kita sama-sama saling duduk di kursi ruang tamu usai shalat
maghrib. Dan itu mudah sekali, kan? Lalu apa beratnya?
Ada dua hal yang kupikir sangat penting yang masuk
dalam daftar pertimbanganku.
Pertama, aku tentu memikirkan persoalan
ekonomi kita. Jika aku mengatakannya padamu—tentang keinginan itu, kuyakin hal
pertama yang akan kaupikir adalah ekonomi. Mau tak mau urusan ini menjadi beban
juga buatku, hingga masuk dalam daftar pertimbanganku.
Kedua. Harus diakui, kau bukan jebolan
pesantren. Jika dulu waktu kecil kau mengaji di musalla belakang rumah, mungkin
betul. Tetapi itu tak cukup untukmu membulatkan hatimu mengikuti kemauan yang
masih kusimpan ini. Ah, atau jangan-jangan ini hanya intuisiku semata?
Mudah-mudahan iya.
Sebab dulu aku pernah bilang bahwa aku ingin
kembali ke pesantren namun kau melarangku. Alasannya adalah pertimbanganku yang
pertama tadi: Ekonomi. Kau kukuh melarang sementara aku tak mau kalah untuk
memaksa. Dan kenapa aku memaksa?
Inilah jawabanku.
Bagiku yang pernah mencicipi dunia pesantren,
aku selalu percaya bahwa keyakinan akan kecukupan—tentang apapun—adalah doa
pertama yang manjur, setidaknya bagi diriku sendiri. Seperti sudah sering
kukatakan padamu: Tuhan selalu seperti apa yang kita sangkakan kepadanya. Jika
kita menyangkakan hal-hal baik terhadapnya, maka baiklah semuanya. Jika
sebaliknya, maka kemungkinan besar juga akan sebaliknya. Bahkan
motivator-motivator kelas atas pun selalu menjiplak kata-kata itu—yang
sebenarnya sudah ada dalam Kudus sejak ratusan tahun lalu. Maka satu kuncinya: Yakinlah!
Tetapi meski kutahu dulu kau masih ragu,
akhirnya kau mengizinkanku untuk kembali ke pesantren—setelah perdebatan kita
yang panjang soal ekonomi dan keyakinan itu tadi, tentunya. Bahkan hingga
sekarang, kau beberapa kali sempat sangsi. Kemudian aku meneguhkanmu. Lalu
beberapa waktu selanjutnya kau meragukannya. Tak berlebihan mungkin jika
kukatakan keyakinanmu fluktuatif—kadang menurun, kadang naik.
Setidaknya, beberapa hal di ataslah yang
barangkali membuatku harus berkali-kali menunda permintaan-dan-keinginan yang
ingin kubicarakan padamu. Barangkali juga sebab aku laki-laki yang sekarang
berumur 19 tahun maka aku sedikit terbebani tentang biaya hidup. Kadang aku
juga berpikir untuk mencari pekerjaan. Tetapi bagaimana dengan sekolahku jika
aku sambil bekerja?
Dan aku juga sering bimbang dengan urusan
semacam ini. Tetapi tenanglah sebentar. Beberapa bulan lagi barangkali aku akan
dipanggil untuk membantu urusan pesantren. Jika itu benar terjadi, kita bisa
sedikit lebih lega. Terutama kau. Doakan saja.
Hei, dari mana saja kita berbincang?
Ah, kurasa ini terlalu jauh. Ah, tetapi juga
tidak apa-apa. Setidaknya perbincangan kita yang melebar ini sedikit membuka
perbincangan kita selanjutnya... tentang keinginanku di atas tadi. Bolehkah aku
mengatakannya sekarang?
Baiklah. Ini adalah beberapa
permintaan-dan-keinginan yang selama ini selalu ingin kukatakan tetapi
sekaligus tak bisa begitu saja kukatakan. Dengarlah baik-baik.
Ibu, aku ingin sekali kau mengikuti
pengajian. Terserah pengajian apapun. Kau bisa mengikuti semuanya atau sebagian
saja.
Di desa kita ada pengajian rutinan yasinan tiap pekan buat ibu-ibu. Kemudian di pesantrenku, ada
pengajian tiap bulan, setiap Ahad Legi. Lalu pengajian bulanan lainnya, Dzikru
As-Syafaah. Sekarang tetangga depan rumah kita mulai mengikuti pengajian
itu. Terus terang aku iri pada mereka. Apa kau tak ingin ikut? Setelahnya ada Muslimatan.
Ah, ada banyak sekali sebetulnya. Dan aku ingin sekali melihat kau berangkat
memakai kerudung, membawa tas berisikan buku-buku tahlil, Majmu’
Syarif, atau kitab Al Barzanji. Bukankah dulu kau juga mengikuti Muslimatan?
Aku masih ingat, dengan busana hijau kau mengajakku ke pengajian itu, dulu. Betapa
aku ingin sekali melihatmu seperti dulu lagi.
Tentu saja alasanku yang pertama segera timbul
di pikiranmu. Ya, aku tahu. Warung kita harus tutup jika kau ikut pengajian.
Apa kau keberatan? Jika kau berpikir positif dan menaruh prasangka baik pada
Tuhan, kuyakin jawabanmu akan berubah menjadi tidak keberatan. Lagipula jika
kau ikut pengajian, warung hanya seminggu sekali, kan? Tidak berhari-hari.
Ditambah pengajian bulanan. Baiklah, anggap saja dua minggu warung tutup tiga
kali.
Apa kau masih keberatan? Jika iya, aku tak
akan memaksa.
Tetapi aku ingat nasihat guruku begini, “Jika ingin anaknya berhasil, maka orang tua juga harus ikut berusaha.
Apalagi ia di pesantren. Tak cukup bila seorang anak berusaha sendirian
sementara orang tua hanya mencari rejeki, dan mencari rejeki. Harus ada
penyeimbang: orang tua pun juga mesti mendoakan si anak. Melalui apa? Tahajud,
pengajian-pengajian, bersedekah, dan lain-lain. Lalu si anak juga harus
berusaha. Tak hanya belajar. Tetapi itu tadi: berdoa, mendoakan orang tua.
Melalui salat dhuha, memperbaiki sikap, dan lain-lain. Dan itu harus
seimbang—antara orang tua dan anak.”
Dan mungkin persoalan ekonomi tak akan bisa
lepas. Ah. Aku ingin baju koko warna putih. Dua baju putihku kotor dan sulit
sekali dibersihkan. Ah. Fathul Qarib-ku hilang. Tafsir
milikku juga hilang. Uang SPP belum lunas. Bagaimana mengatasi semua
permintaan-keinginan anakmu ini? Maafkan aku. Maafkan aku.
Abaikan saja soal baju koko. Aku hanya
ingin engkau ikut jamaah pengajian. Itu saja.
Barangkali pengajian-pengajian hanya akan
menyurutkan pemasukan uang kita—sebab segala aktivitas pencarian uang harus
dihentikan, termasuk menutup warung kita. Tetapi di luar itu, aku masih
percaya, bahwa justru dari situlah semuanya akan berubah dan membaik.
Kau tak percaya?
Ada banyak hal yang tak kita percayai
justru terjadi. Dan ingat, Bu, Tuhan tak pernah membiarkan hambaNya kekurangan
selama ia memperjuangkan kebaikan dan agama.
Tegalsari,
Kamis, 17 April 2014
—12:42 am*Gambar dari sini.


0 komentar:
Posting Komentar