Kamis, 24 April 2014

: Ibu

Seperti manusia lainnya, aku memiliki beberapa keinginan-dan-permintaan yang tak bisa begitu saja mudah diucapkan atau disampaikan—apalagi padamu. Beberapa kali ketika kita bertemu, berpapasan, atau sedang duduk santai tak melakukan kegiatan apapun, kuakui, ingin sekali aku mengatakan semua itu. Tetapi lidahku seperti kaku. Kata-kata yang telah berjam-jam lalu kurangkai sedemikian rupa mendadak berantakan.

Seberapa pentingkah, atau seberapa beratkah urusan yang ingin kusampaikan ini—hingga membuatku selalu menjadi manusia paling pengecut seperti ini?

Entahlah.

Jika dibilang penting, tentu saja penting sekali. Jika ditimbang seberapa berat hingga berkali-kali aku harus menuai kecemasan untuk mengatakannya, sebenarnya tak terlalu berat. Aku bisa saja mengatakan ini padamu sewaktu-waktu. Saat kau memasak, misalnya. Atau saat paling tenang, ketika kita sama-sama saling duduk di kursi ruang tamu usai shalat maghrib. Dan itu mudah sekali, kan? Lalu apa beratnya?

Ada dua hal yang kupikir sangat penting yang masuk dalam daftar pertimbanganku.

Pertama, aku tentu memikirkan persoalan ekonomi kita. Jika aku mengatakannya padamu—tentang keinginan itu, kuyakin hal pertama yang akan kaupikir adalah ekonomi. Mau tak mau urusan ini menjadi beban juga buatku, hingga masuk dalam daftar pertimbanganku.

Kedua. Harus diakui, kau bukan jebolan pesantren. Jika dulu waktu kecil kau mengaji di musalla belakang rumah, mungkin betul. Tetapi itu tak cukup untukmu membulatkan hatimu mengikuti kemauan yang masih kusimpan ini. Ah, atau jangan-jangan ini hanya intuisiku semata? Mudah-mudahan iya.

Sebab dulu aku pernah bilang bahwa aku ingin kembali ke pesantren namun kau melarangku. Alasannya adalah pertimbanganku yang pertama tadi: Ekonomi. Kau kukuh melarang sementara aku tak mau kalah untuk memaksa. Dan kenapa aku memaksa?

Inilah jawabanku.

Bagiku yang pernah mencicipi dunia pesantren, aku selalu percaya bahwa keyakinan akan kecukupan—tentang apapun—adalah doa pertama yang manjur, setidaknya bagi diriku sendiri. Seperti sudah sering kukatakan padamu: Tuhan selalu seperti apa yang kita sangkakan kepadanya. Jika kita menyangkakan hal-hal baik terhadapnya, maka baiklah semuanya. Jika sebaliknya, maka kemungkinan besar juga akan sebaliknya. Bahkan motivator-motivator kelas atas pun selalu menjiplak kata-kata itu—yang sebenarnya sudah ada dalam Kudus sejak ratusan tahun lalu. Maka satu kuncinya: Yakinlah!

Tetapi meski kutahu dulu kau masih ragu, akhirnya kau mengizinkanku untuk kembali ke pesantren—setelah perdebatan kita yang panjang soal ekonomi dan keyakinan itu tadi, tentunya. Bahkan hingga sekarang, kau beberapa kali sempat sangsi. Kemudian aku meneguhkanmu. Lalu beberapa waktu selanjutnya kau meragukannya. Tak berlebihan mungkin jika kukatakan keyakinanmu fluktuatif—kadang menurun, kadang naik.

Setidaknya, beberapa hal di ataslah yang barangkali membuatku harus berkali-kali menunda permintaan-dan-keinginan yang ingin kubicarakan padamu. Barangkali juga sebab aku laki-laki yang sekarang berumur 19 tahun maka aku sedikit terbebani tentang biaya hidup. Kadang aku juga berpikir untuk mencari pekerjaan. Tetapi bagaimana dengan sekolahku jika aku sambil bekerja?

Dan aku juga sering bimbang dengan urusan semacam ini. Tetapi tenanglah sebentar. Beberapa bulan lagi barangkali aku akan dipanggil untuk membantu urusan pesantren. Jika itu benar terjadi, kita bisa sedikit lebih lega. Terutama kau. Doakan saja.

Hei, dari mana saja kita berbincang?

Ah, kurasa ini terlalu jauh. Ah, tetapi juga tidak apa-apa. Setidaknya perbincangan kita yang melebar ini sedikit membuka perbincangan kita selanjutnya... tentang keinginanku di atas tadi. Bolehkah aku mengatakannya sekarang?

Baiklah. Ini adalah beberapa permintaan-dan-keinginan yang selama ini selalu ingin kukatakan tetapi sekaligus tak bisa begitu saja kukatakan. Dengarlah baik-baik.

Ibu, aku ingin sekali kau mengikuti pengajian. Terserah pengajian apapun. Kau bisa mengikuti semuanya atau sebagian saja.

Di desa kita ada pengajian rutinan yasinan tiap pekan buat ibu-ibu. Kemudian di pesantrenku, ada pengajian tiap bulan, setiap Ahad Legi. Lalu pengajian bulanan lainnya, Dzikru As-Syafaah. Sekarang tetangga depan rumah kita mulai mengikuti pengajian itu. Terus terang aku iri pada mereka. Apa kau tak ingin ikut? Setelahnya ada Muslimatan. Ah, ada banyak sekali sebetulnya. Dan aku ingin sekali melihat kau berangkat memakai kerudung, membawa tas berisikan buku-buku tahlil, Majmu’ Syarif, atau kitab Al Barzanji. Bukankah dulu kau juga mengikuti Muslimatan? Aku masih ingat, dengan busana hijau kau mengajakku ke pengajian itu, dulu. Betapa aku ingin sekali melihatmu seperti dulu lagi.

Tentu saja alasanku yang pertama segera timbul di pikiranmu. Ya, aku tahu. Warung kita harus tutup jika kau ikut pengajian. Apa kau keberatan? Jika kau berpikir positif dan menaruh prasangka baik pada Tuhan, kuyakin jawabanmu akan berubah menjadi tidak keberatan. Lagipula jika kau ikut pengajian, warung hanya seminggu sekali, kan? Tidak berhari-hari. Ditambah pengajian bulanan. Baiklah, anggap saja dua minggu warung tutup tiga kali.

Apa kau masih keberatan? Jika iya, aku tak akan memaksa.

Tetapi aku ingat nasihat guruku begini, “Jika ingin anaknya berhasil, maka orang tua juga harus ikut berusaha. Apalagi ia di pesantren. Tak cukup bila seorang anak berusaha sendirian sementara orang tua hanya mencari rejeki, dan mencari rejeki. Harus ada penyeimbang: orang tua pun juga mesti mendoakan si anak. Melalui apa? Tahajud, pengajian-pengajian, bersedekah, dan lain-lain. Lalu si anak juga harus berusaha. Tak hanya belajar. Tetapi itu tadi: berdoa, mendoakan orang tua. Melalui salat dhuha, memperbaiki sikap, dan lain-lain. Dan itu harus seimbang—antara orang tua dan anak.”

Dan mungkin persoalan ekonomi tak akan bisa lepas. Ah. Aku ingin baju koko warna putih. Dua baju putihku kotor dan sulit sekali dibersihkan. Ah. Fathul Qarib-ku hilang. Tafsir milikku juga hilang. Uang SPP belum lunas. Bagaimana mengatasi semua permintaan-keinginan anakmu ini? Maafkan aku. Maafkan aku.

Abaikan saja soal baju koko. Aku hanya ingin engkau ikut jamaah pengajian. Itu saja.

Barangkali pengajian-pengajian hanya akan menyurutkan pemasukan uang kita—sebab segala aktivitas pencarian uang harus dihentikan, termasuk menutup warung kita. Tetapi di luar itu, aku masih percaya, bahwa justru dari situlah semuanya akan berubah dan membaik.

Kau tak percaya?

Ada banyak hal yang tak kita percayai justru terjadi. Dan ingat, Bu, Tuhan tak pernah membiarkan hambaNya kekurangan selama ia memperjuangkan kebaikan dan agama.

Tegalsari,
Kamis, 17 April 2014
—12:42 am
*Gambar dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar