Masa laluku, aku ingin belajar mencintaimu
seperti dalam ingatanku:
Lelaki kecil yang mengejar perempuan
berseragam putih-merah. Lelaki itu mengejarnya dan mendapatkannya. Si perempuan
kalah dan menyerah. Tetapi setelah itu, mereka diam saja sembari tertawa-tawa:
Mereka tak pernah tahu untuk apa mereka berkejaran. Yang mereka rasakan
hanyalah kesenangan; Senang pada kebiasaan berkejaran itu. Dan pada akhirnya,
masing-masing kemudian pergi. Si perempuan membeli es di kantin dan mengelap
wajahnya yang basah dengan tisu. Sementara si lelaki, ia memilih mengagumi dan
mencintai si perempuan tadi dari kejauhan.
Masa laluku, aku ingin belajar memaafkanmu
seperti dalam ingatanku:
Dua anak kecil yang bertengkar saat bermain
kelereng. Pada saat itu, mereka saling mengolok-olok. Tak mau kalah. Pantang
menyapa. Dan pulang dengan dada yang memendam dendam. Esok pagi, ketika akan
berangkat sekolah, seperti tak pernah terjadi apa-apa, mereka menuju sekolah
dengan tawa dan perbincangan biasa—seperti hari-hari sebelumnya. Mereka berdua
memutuskan menjadi pemaaf dan melupakan semuanya.
Dan aku ingin belajar berterima kasih
padamu, masa laluku, seperti dalam ingatanku:
Seorang remaja yang gagal mendapatkan
cintanya, tetapi kemudian ia memaafkan dirinya sendiri dan sadar: Kebahagiaan
ternyata bukan tentang cinta-siapa-atau-siapa-cinta-yang-kita-dapatkan,
melainkan ihwal bagaimana kita berterima kasih pada hal-hal yang tengah
terjadi—mensyukuri apa-apa yang diberikan oleh Hidup.
Maka, masa laluku, demi mereka semua yang berada
dalam ingatanku, aku akan melangkah!
Tegalsari,
Sabtu, 22 Februari 2014
—09:27 am
*Gambar dari sini.


0 komentar:
Posting Komentar