Minggu, 16 Maret 2014

Masa laluku, aku ingin belajar mencintaimu seperti dalam ingatanku:

Lelaki kecil yang mengejar perempuan berseragam putih-merah. Lelaki itu mengejarnya dan mendapatkannya. Si perempuan kalah dan menyerah. Tetapi setelah itu, mereka diam saja sembari tertawa-tawa: Mereka tak pernah tahu untuk apa mereka berkejaran. Yang mereka rasakan hanyalah kesenangan; Senang pada kebiasaan berkejaran itu. Dan pada akhirnya, masing-masing kemudian pergi. Si perempuan membeli es di kantin dan mengelap wajahnya yang basah dengan tisu. Sementara si lelaki, ia memilih mengagumi dan mencintai si perempuan tadi dari kejauhan.

Masa laluku, aku ingin belajar memaafkanmu seperti dalam ingatanku:

Dua anak kecil yang bertengkar saat bermain kelereng. Pada saat itu, mereka saling mengolok-olok. Tak mau kalah. Pantang menyapa. Dan pulang dengan dada yang memendam dendam. Esok pagi, ketika akan berangkat sekolah, seperti tak pernah terjadi apa-apa, mereka menuju sekolah dengan tawa dan perbincangan biasa—seperti hari-hari sebelumnya. Mereka berdua memutuskan menjadi pemaaf dan melupakan semuanya.

Dan aku ingin belajar berterima kasih padamu, masa laluku, seperti dalam ingatanku:

Seorang remaja yang gagal mendapatkan cintanya, tetapi kemudian ia memaafkan dirinya sendiri dan sadar: Kebahagiaan ternyata bukan tentang cinta-siapa-atau-siapa-cinta-yang-kita-dapatkan, melainkan ihwal bagaimana kita berterima kasih pada hal-hal yang tengah terjadi—mensyukuri apa-apa yang diberikan oleh Hidup.

Maka, masa laluku, demi mereka semua yang berada dalam ingatanku, aku akan melangkah!

Tegalsari,
Sabtu, 22 Februari 2014

—09:27 am
*Gambar dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar