Canda,
kemarilah sebentar, kuberitahu. Duduklah di sampingku. Ini mungkin tak terlalu
penting, tetapi biarlah. Aku hanya ingin berbagi cerita padamu. Kupikir, semua
orang pernah mengalami apa yang akan kukatakan padamu ini. Kamu tentu pernah mengharapkan
sesuatu, apapun, untuk kamu dapatkan, bukan? Hmmm, ya, tentu saja. Kamu pasti
pernah—seperti aku.
Sekarang,
kutanya: Bagaimana jika permintaan atau harapanmu tak tercapai?
Ah, ya, pasti
kamu kecewa. Kamu pasti kecewa dengan semuanya, Canda. Eh, tapi, bukankah
kecewa hanya akan membuat dadamu sesak? Bukankah kecewa adalah jalan untuk
terus menjadi pendendam bagi masa lalumu, masa laluku—masa lalu kita sendiri?
Pikirkan baik-baik,
Canda.
Barangkali kita
pernah kecewa dan mengecewakan orang lain. Maka inilah yang ingin kukatakan
padamu. Belakangan aku cukup resah dengan hal ini. Rupanya, selama ini, aku
masih sering mengecewakan orang tuaku, Canda. Apa yang mereka harapkan dariku,
barangkali belum bisa kuberikan.
Kemarin,
sepulang sekolah, Ibuku bertanya padaku apa aku sudah membelikan kotak nasi?
Ah, aku baru ingat. Sebelum berangkat sekolah kemarin, Ibuku menyuruh
membelikan kotak nasi sebab ada pesanan cukup banyak untuk acara di musala
belakang. Dan aku lupa! Padahal, ini mendadak. Acara akan digelar jam 1 siang.
Sementara toko yang menjual kotak nasi hanya ada di samping sekolah kita, yang
jaraknya dari rumahku 20 kilometer.
Aku
mengecewakan Ibuku!
Kemudian
sekitar sebulan yang lalu, kamu tahu, kan, aku diutus Bu Yuni, guru
Kesenian kita, untuk lomba melukis. Sebetulnya ada 2 calon kandidat yang bakal
diutus sekolah. Aku dan Ratih. Tapi Ratih waktu itu sakit. Jadi, aku yang maju.
Lomba berjalan
lancar-lancar saja bagiku. Peserta yang mengikuti lomba ada sekitar 15 orang.
Setelah selesai melukis, aku menatap hasil lukisanku dengan puas. Bu Yuni pun
begitu. Sembari menunggu peserta lain menyelesaikan lukisannya masing-masing,
aku berkeliling untuk melihat hasil dari musuhku. Ada yang melukis tanah yang
basah, ada yang melukis gunung meletus, lautan, dan lain-lain. Sementara aku,
aku melukis perempuan yang menatap senja.
Bu Yuni dan
aku sama-sama yakin bahwa lukisanku bakal menang dan juara. Kami senyum-senyum
karena yakin. Ya, yakin saja.
Hingga tiba pengumuman
juara, aku dan Bu Yuni masih pede kalau lukisanku yang menang, dan sekolah kita
jadi juara!
Dan kamu tahu
apa yang terjadi? Aku kalah, Canda! Sekolah kita tak jadi juara. Dan Bu Yuni
menggeleng-geleng tanda tak percaya. Aku kecewa. Bu Yuni kecewa. Aku tak tahu
apakah guru-guru lain juga akan kecewa mendengar ini. Tapi saat pulang dari
lokasi lomba, aku mendengar Bu Yuni menggumam pelan pada dirinya sendiri.
“Andai yang
aku tunjuk maju lomba adalah Ratih, mungkin hasilnya akan berbeda.”
Bu Yuni tak
tahu jika barusan aku mendengar apa yang beliau ucapkan. Aku menundukkan
kepala. Menyesal telah membuat Bu Yuni kecewa.
Hari itu, aku
menularkan kekecewaan pada orang lain, Canda. Dan itu membuat dadaku nyeri.
Sesampainya di
rumah, aku disambut Ibuku dengan sukacita. Ibu menanyakan bagaimana hasil lomba
tadi. Aku menceritakan proses lomba dari awal hingga akhir. Ya... hingga
akhirnya aku kalah dan Bu Yuni kecewa... .
Aku meminta
maaf pada Ibu dan berjanji akan belajar melukis dengan lebih baik lagi. Ini
sebenarnya adalah modusku agar Ibu tak terlalu kecewa mendengar hasilku lomba.
Tapi, Canda,
aku tak menduga, sebelumnya. Ibuku tak tampak kecewa. Beliau justru memberiku
nasihat untuk menguatkan kembali semangatku. Menumbuhkan kembali harapanku. Dan
karena nasihat Ibu, aku bisa menegakkan kepalaku kembali—dengan kelapangan
menerima apa-apa yang telah sekaligus tengah terjadi.
“Mata,” Ibuku memulai nasihatnya, “Tentang
kecewa, barangkali ia pernah—atau selalu—ada dalam hidup kita. Di suatu waktu,
kita pernah mengecewakan orang lain: Menyobek hatinya hingga terluka. Dan di waktu
yang lain, pernah juga orang lain (tanpa sengaja) mengecewakan
kita.“
Ibu menatapku
dengan senyum penuh ketulusan.
“Lalu
orang-orang yang telah kecewa itu—termasuk kita, akan cenderung tak terima,
berontak, menyerapahi apa saja, menuntut hal-hal yang tak masuk akal agar
keadaan berubah menjadi seperti yang diharapkan... . Tetapi sayang, apa-apa
yang telah terjadi tak pernah bisa berubah—seperti yang kita kehendaki: Sungai tetap mengalirkan air ke laut.
Dan apa saja yang akan terjadi, tak pernah bisa kita kendalikan sesuai dengan
keinginan kita. Kabar paling baik buat kita hanyalah ‘berencana’, dan
‘menunggu’. Berencana untuk menjadi baik. Kemudian menunggu sampai waktu
memberikan jawabannya—sembari berdoa, tentu saja.”
Aku
membetulkan posisi dudukku. Dan Ibu melanjutkan kembali menasihatiku, “Dan
Tuhan akan membagikan upah atas kerja payahmu.”
“Oooh.” Aku manggut-manggut.
“Maka
atas kejadian tersebut, tentang kita pernah mengecewakan orang lain, tentu saja
sudah bisa ditebak: kita akan merasa bersalah, berusaha meminta maaf atas kesalahan
tersebut. Dan bagaimanapun itu tak cukup, Mata. Barangkali kita butuh sesuatu yang lain. Ya, sesuatu itu
adalah: Perilaku yang mencerminkan penyesalan kita, melakukan tebusan, semacam
tingkah laku atau usaha
yang lebih baik. Dan jauh lebih
baik lagi dari sebelumnya.
“Maka tentang
kita pernah dibuat kecewa, lupakan saja, Mata... maafkan saja. Sebab pemaafan
akan melapangkan jalan kita selanjutnya, meloloskan napas kebahagiaan kita, dan
membuat masa depan akan lebih mudah dari sebelumnya, tentu saja.”
Usai mendengar
nasihat Ibu, aku merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya, Canda. Dalam hati,
aku percaya, Tuhan pasti akan memberikan upah yang setimpal bagi mereka-mereka
yang mau berusaha.
Tegalsari,
Kamis, 13
Februari 2014
—05:54 pm*Gambar dari sini.


0 komentar:
Posting Komentar