Minggu, 16 Maret 2014

Canda, kemarilah sebentar, kuberitahu. Duduklah di sampingku. Ini mungkin tak terlalu penting, tetapi biarlah. Aku hanya ingin berbagi cerita padamu. Kupikir, semua orang pernah mengalami apa yang akan kukatakan padamu ini. Kamu tentu pernah mengharapkan sesuatu, apapun, untuk kamu dapatkan, bukan? Hmmm, ya, tentu saja. Kamu pasti pernah—seperti aku.

Sekarang, kutanya: Bagaimana jika permintaan atau harapanmu tak tercapai?

Ah, ya, pasti kamu kecewa. Kamu pasti kecewa dengan semuanya, Canda. Eh, tapi, bukankah kecewa hanya akan membuat dadamu sesak? Bukankah kecewa adalah jalan untuk terus menjadi pendendam bagi masa lalumu, masa laluku—masa lalu kita sendiri?

Pikirkan baik-baik, Canda.

Barangkali kita pernah kecewa dan mengecewakan orang lain. Maka inilah yang ingin kukatakan padamu. Belakangan aku cukup resah dengan hal ini. Rupanya, selama ini, aku masih sering mengecewakan orang tuaku, Canda. Apa yang mereka harapkan dariku, barangkali belum bisa kuberikan.

Kemarin, sepulang sekolah, Ibuku bertanya padaku apa aku sudah membelikan kotak nasi? Ah, aku baru ingat. Sebelum berangkat sekolah kemarin, Ibuku menyuruh membelikan kotak nasi sebab ada pesanan cukup banyak untuk acara di musala belakang. Dan aku lupa! Padahal, ini mendadak. Acara akan digelar jam 1 siang. Sementara toko yang menjual kotak nasi hanya ada di samping sekolah kita, yang jaraknya dari rumahku 20 kilometer.

Aku mengecewakan Ibuku!

Kemudian sekitar sebulan yang lalu, kamu tahu, kan, aku diutus Bu Yuni, guru Kesenian kita, untuk lomba melukis. Sebetulnya ada 2 calon kandidat yang bakal diutus sekolah. Aku dan Ratih. Tapi Ratih waktu itu sakit. Jadi, aku yang maju.

Lomba berjalan lancar-lancar saja bagiku. Peserta yang mengikuti lomba ada sekitar 15 orang. Setelah selesai melukis, aku menatap hasil lukisanku dengan puas. Bu Yuni pun begitu. Sembari menunggu peserta lain menyelesaikan lukisannya masing-masing, aku berkeliling untuk melihat hasil dari musuhku. Ada yang melukis tanah yang basah, ada yang melukis gunung meletus, lautan, dan lain-lain. Sementara aku, aku melukis perempuan yang menatap senja.

Bu Yuni dan aku sama-sama yakin bahwa lukisanku bakal menang dan juara. Kami senyum-senyum karena yakin. Ya, yakin saja.

Hingga tiba pengumuman juara, aku dan Bu Yuni masih pede kalau lukisanku yang menang, dan sekolah kita jadi juara!

Dan kamu tahu apa yang terjadi? Aku kalah, Canda! Sekolah kita tak jadi juara. Dan Bu Yuni menggeleng-geleng tanda tak percaya. Aku kecewa. Bu Yuni kecewa. Aku tak tahu apakah guru-guru lain juga akan kecewa mendengar ini. Tapi saat pulang dari lokasi lomba, aku mendengar Bu Yuni menggumam pelan pada dirinya sendiri.

“Andai yang aku tunjuk maju lomba adalah Ratih, mungkin hasilnya akan berbeda.”

Bu Yuni tak tahu jika barusan aku mendengar apa yang beliau ucapkan. Aku menundukkan kepala. Menyesal telah membuat Bu Yuni kecewa.

Hari itu, aku menularkan kekecewaan pada orang lain, Canda. Dan itu membuat dadaku nyeri.

Sesampainya di rumah, aku disambut Ibuku dengan sukacita. Ibu menanyakan bagaimana hasil lomba tadi. Aku menceritakan proses lomba dari awal hingga akhir. Ya... hingga akhirnya aku kalah dan Bu Yuni kecewa... .

Aku meminta maaf pada Ibu dan berjanji akan belajar melukis dengan lebih baik lagi. Ini sebenarnya adalah modusku agar Ibu tak terlalu kecewa mendengar hasilku lomba.

Tapi, Canda, aku tak menduga, sebelumnya. Ibuku tak tampak kecewa. Beliau justru memberiku nasihat untuk menguatkan kembali semangatku. Menumbuhkan kembali harapanku. Dan karena nasihat Ibu, aku bisa menegakkan kepalaku kembali—dengan kelapangan menerima apa-apa yang telah sekaligus tengah terjadi.

“Mata,” Ibuku memulai nasihatnya, “Tentang kecewa, barangkali ia pernah—atau selalu—ada dalam hidup kita. Di suatu waktu, kita pernah mengecewakan orang lain: Menyobek hatinya hingga terluka. Dan di waktu yang lain, pernah juga orang lain (tanpa sengaja) mengecewakan kita.

Ibu menatapku dengan senyum penuh ketulusan.

“Lalu orang-orang yang telah kecewa itu—termasuk kita, akan cenderung tak terima, berontak, menyerapahi apa saja, menuntut hal-hal yang tak masuk akal agar keadaan berubah menjadi seperti yang diharapkan... . Tetapi sayang, apa-apa yang telah terjadi tak pernah bisa berubah—seperti yang kita kehendaki: Sungai tetap mengalirkan air ke laut. Dan apa saja yang akan terjadi, tak pernah bisa kita kendalikan sesuai dengan keinginan kita. Kabar paling baik buat kita hanyalah ‘berencana’, dan ‘menunggu’. Berencana untuk menjadi baik. Kemudian menunggu sampai waktu memberikan jawabannya—sembari berdoa, tentu saja.”

Aku membetulkan posisi dudukku. Dan Ibu melanjutkan kembali menasihatiku, “Dan Tuhan akan membagikan upah atas kerja payahmu.”

“Oooh.” Aku manggut-manggut.

Maka atas kejadian tersebut, tentang kita pernah mengecewakan orang lain, tentu saja sudah bisa ditebak: kita akan merasa bersalah, berusaha meminta maaf atas kesalahan tersebut. Dan bagaimanapun itu tak cukup, Mata. Barangkali kita butuh sesuatu yang lain. Ya, sesuatu itu adalah: Perilaku yang mencerminkan penyesalan kita, melakukan tebusan, semacam tingkah laku atau usaha yang lebih baik. Dan jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.

“Maka tentang kita pernah dibuat kecewa, lupakan saja, Mata... maafkan saja. Sebab pemaafan akan melapangkan jalan kita selanjutnya, meloloskan napas kebahagiaan kita, dan membuat masa depan akan lebih mudah dari sebelumnya, tentu saja.”

Usai mendengar nasihat Ibu, aku merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya, Canda. Dalam hati, aku percaya, Tuhan pasti akan memberikan upah yang setimpal bagi mereka-mereka yang mau berusaha.

Tegalsari,
Kamis, 13 Februari 2014
—05:54 pm
*Gambar dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar