Bagi kita yang masih muda, barangkali
‘penyesalan’ sering kita abaikan kehadirannya. Semua mengenai masa depan tak
pernah kita pikirkan. Dan kita memang cenderung untuk membiarkan semua berjalan
apa adanya.
“Biarkan
semua berjalan apa adanya,” katamu.
Aku setuju. Tapi kosakata “muda” tak akan
berlangsung lama, bukan? Sementara kita tak pernah membuat rencana-rencana, tak
pernah mengubah segala sesuatunya, dan terus(-menerus) membiarkan semuanya
berjalan apa adanya(?).
“Apapun
yang terjadi hari ini, biarkan saja terjadi. Dan hari esok memang cocok menjadi
misteri,” katamu, lagi.
Ah, sayang sekali jika kita selalu abai
terhadap masa muda; Seolah-olah kita akan hidup seribu tahun lamanya, dan kita
tak pernah mengagendakan kebaikan-kebaikan di masa yang akan datang.
Kita tahu, sudah banyak manusia di dunia ini
yang terlanjur terjerembap pada lubang penyesalan masing-masing karena tak
pernah merencanakan masa depannya—dan membiarkan semuanya berjalan apa adanya.
Lantas waktu yang terus berjalan tak pernah bisa diputar ulang, dan kesalahan
demi kesalahan tak bisa berubah menjadi kebaikan-kebaikan oleh kalimat-kalimat
penyesalan paling panjang, sekalipun.
Apa yang harus kita rencanakan untuk masa
depan adalah mengerjakan kebaikan dan berusaha belajar menjadi lebih baik di
hari ini. Agar pada saatnya kita tua nanti, kita tak lantas menyesal pada diri
sendiri. Sebab, di manapun, penyesalan tak pernah hadir tepat waktu. Ia selalu
datang terlambat. Dan kita yang bertemu dengannya, tak pernah diberi
kesanggupan untuk bisa menyulap segala sesuatunya.
Maka jangan biarkan segalanya berjalan apa
adanya: Rekayasalah hidupmu untuk menjadi
lebih baik. Lama-lama, kamu akan terbiasa dengan kebaikan-kebaikan yang semula
hanya pura-pura dan terpaksa.
“Aku tak
mau menyesal!” kamu mulai sadar.
Syukurlah,
hari ini kita kembali bisa berpikir untuk tidak mengabaikan lagi kosakata yang
bernama “sesal”. Mudah-mudahan apa saja yang kita rencanakan saat ini, yang
kita lakukan dan kita kerjakan hari ini, tak pernah membuat kita menyesal di
kemudian hari.
*Gambar dari sini.


0 komentar:
Posting Komentar