Kamis, 24 April 2014

“Apa itu kenangan?”

Suara di balik punggungmu menanyakan sesuatu yang sejak tadi tengah kaupikirkan. Dadamu kini sedang hanyut bersama sejuta ingatan dalam sungai masa lalu(mu).

Apa itu kenangan? Kau mengangkat sebelah alismu, mengulang sendiri pertanyaan yang diajukan oleh suara dari belakang punggungmu barusan.

“Barangkali kenangan adalah pohon mangga di halaman sebuah rumah.” Kau menjawab sekenanya tanpa menengok ke asal suara yang bertanya padamu.

“Yang benar saja? Kau yakin? Kenapa begitu?” Suara itu bertanya lagi.

“Entahlah. Aku tak terlalu yakin. Tetapi aku bisa menjawab pertanyaanmu yang terakhir.” Kau tetap berpaling dari suara itu, “Bisa jadi ia adalah dedaunan dari pohon mangga yang tiap sore jatuh diterpa angin. Kita bisa memungut-mengingatnya kapan saja kita mau.”

“Lalu?”

“Lalu sudah.”

Suara itu terkekeh.

“Kenapa?”

“Tak ada.”

“Apa yang lucu?”

“Tak ada.”

“Aku bukan pengandai yang baik.” Kau mendengus.

Suara itu kembali terkekeh.

“Kenapa?”

“Tak ada.”

“Apa yang lucu?”

“Tak ada.”

Dadamu mulai sesak—sebal.

“Percuma.” Kata suara itu.

“Apanya yang percuma?” Kau melotot—masih enggan menghadap ke asal suara.

“Apa yang kau ambil dari kenangan?” Suara itu berbalik bertanya.

Kau makin sebal. Jemarimu diam-diam menyusun dirinya sendiri menjadi seperti sebuah batu alami yang keras. Lenganmu yang berotot mulai ikut keras. Napasmu tersengal. Mukamu memerah. Dan lebih memerah lagi.

“Percuma.” Kata suara itu. Lagi.

“Apanya yang percuma, hah!?” Kali ini kau mengangkat oktaf bunyi suaramu, mukamu merah padam. Napasmu semakin tersengal. Dadamu kian menyesakkan. Tetapi wajahmu masih enggan berbalik ke arah suara.

Suara itu, lagi-lagi, terkekeh.

“Apa yang kau ambil dari kenangan?”

Apa yang kuambil dari kenangan? Kau semakin tak mengerti dengan pertanyaan itu. Kau mulai berpikir keras: Apa yang kuambil dari kenangan?

Tanpa sadar, kepalan tanganmu mulai merenggang. Napasmu perlahan kembali normal. Ternyata tanpa kausadari, dengan berpikir kau menjadi seseorang yang lebih tenang.

Apa yang kuambil dari kenangan?

“Entahlah. Tak ada. Eh. Aku tak tahu.” Jawabanmu berlepotan.

“Cobalah berpikir lagi.”

Jeda sesaat.

“Aku tak tahu.”

“Cobalah lagi.”

Jeda kembali.

“Aku tak tahu.”

“Lagi.”

“Aku tak tahu.” Kau geram.

Suara itu terkekeh.

“Percuma.”

“Aku memang tak tahu!” kau melotot.

Suara itu terkekeh. Lagi.

Kau semakin sebal. Kali ini kau tak ingin menanggapi. Suara itu kembali terkekeh—kali ini lebih keras dari sebelumnya. Dan kembali terkekeh.

“Percuma!” suara itu terdengar lebih serius.

Kau menelan ludah. Bosan dengan kata percuma yang ia ucapkan berulang-ulang.

“Baiklah. Aku tak tahu. Memangnya apa yang bisa kita ambil dari kenangan? Adakah?”

Suara itu tertawa kecil. “Nah, akhirnya kau bertanya.”

Kau mengernyitkan dahi.

“Ada yang kau lupa. Ada hal yang bisa kita ambil dari kenangan—masa lalu.”

“Apa?”

“Adalah pelajaran, selain juga perasaan ingin mengulanginya tentunya. Kau terlalu mudah marah. Itu sebabnya tadi kau menjawab tak tahu saat kutanya adakah sisa kenangan yang bisa kauambil(?). Kau juga terlalu mudah menyerah. Makanya tadi aku terus mendesakmu untuk mencoba berpikir—mengingat hal-hal baik yang bisa kauambil. Tetapi kau kalah dengan emosimu, lalu menyerah tanpa hasil!”

Suara itu kini semakin mantap menghujanimu kata-kata yang tak pernah kau duga-duga sebelumnya.

“Kau tahu, apa yang membuat kita tak bisa melahirkan ide cemerlang nan berbobot? Emosi. Bahkan seorang hakim tak boleh memutuskan perkara saat ia emosi.”

Kau tak bisa mencegah suara itu yang terus berbicara. Justru kau kini diam-diam membenarkannya.

“Kau bisa saja mengatakan kenangan adalah dedaunan yang gugur akibat diterpa angin senja, atau mengibaratkan dengan apapun. Tetapi kau juga harus ingat: selama tak ada yang kauambil dari sisa kenanganmu, bisa jadi kau hanya manusia yang tak pernah beruntung. Dan celaka bila kau justru tak bisa lebih baik dari kenanganmu—masa lalumu. Itu sebabnya sejak tadi kukatakan padamu percuma, dan percuma!

“Dan lihatlah ke hadapanku. Aku adalah masa depanmu. Sejak tadi kita berdialog, kau hanya berpaling dariku. Kau terlalu sibuk memungut daun-kenangan yang jatuh dari pohon manggamu, untuk bersedih dan menangis, hingga saat berdialog denganku pun, kau tak lantas menatapku—sekadar menghargaiku. Apa kau lupa dengan masa depan? Apa kau tak percaya denganku, masa depanmu—takdirmu?”

Lalu kepalamu pelan-pelan menengok ke belakang, ke asal suara itu, diikuti badanmu. Dadamu tertahan, napasmu tertahan.

“Kau bisa saja tak percaya dengan takdir. Tetapi kau tak bisa menolak apapun saja yang kini tengah terjadi!”

Apa yang kulakukan selama ini? Batinmu. Kau tertunduk. Tersedu.

“Berjanjilah kepadaku untuk menjadi lebih baik. Menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi. Berjanjilah.”

Sementara kau masih menangis-menyesal, suara itu tak lagi terdengar. Lalu tanganmu menyeka air mata yang mengalir di pipimu. Kau lantas menegakkan kembali kepalamu yang tadi layu. Matamu penuh dengan harapan. Dan kau telah berjanji untuk menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi.

Tentu aku akan menjadi lebih baik lagi, katamu dalam hati.

Tegalsari,
Kamis, 17 April 2014
—12:01 pm
*Gambar dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar