Kamis, 01 Mei 2014

: Kepada Fikri Lutfian

Izinkan aku mengatakan kembali kesedihanku melalui kalimat-kalimat yang cacat. Kalimat-kesedihan tentang kepergianmu, yang terlebih dahulu meninggalkanku, juga teman-teman kita.

Jika ada banyak orang yang menangisi kepergianmu, barangkali aku adalah salah satunya. Mengetahui bahwa kau telah tiada, aku tak percaya, seperti orang-orang yang lainnya. Kepergianmu kali ini berbeda dengan kepergianmu saat meninggalkan kami untuk melanjutkan studi ke luar kota usai kita lulus dari bangku SMP.

Saat itu acara pengumuman kelulusan sekolah baru saja berakhir. Dan seluruh siswa di sekolah kita, lulus semua.

Aku masih mengingat bagaimana caranya kau tertawa, meluapkan kelulusan kita bersama. “Aku lulus!” katamu seraya mengepalkan tangan kananmu ke udara. Aku masih ingat betul bagaimana caranya kau mengekspresikan kelulusanmu—empat tahun lalu....

Andai kenangan dapat disederhanakan menjadi sebuah tangga, aku ingin turun ke tangga pertama: saat pertama kali kita berkenalan. Atau ke tangga kedua: saat kita duduk-kelelahan di depan asrama setelah bermain sepakbola. Atau ke tangga keberapa saja, waktu kau bercerita ingin memiliki HP baru dan sepeda.

Aku ingin turun ke tangga di mana kau mengantarkanku pulang ke rumah waktu aku sakit. Aku ingin turun ke tangga-tangga itu, ke kenangan kita berdua: Aku ingin mengajakmu lebih akrab lagi—menyusun hari yang lebih baik dari sebelumnya.

Darimu, aku belajar banyak hal. Tentang bagaimana caranya kata ‘persahabatan’ itu bekerja.
Memang tak ada yang salah denganmu dan denganku. Hidup berjalan sesuai aturanNya. Di mana kematian adalah alam ketiga setelah kita berada di kandungan dan di dunia. Dan giliranmu kini memasuki tempat itu... alam ketiga itu.

Barangkali kesedihan atau rasa tak percaya itu tetap ada di dadaku. Tapi, bagaimanapun juga, aku harus merelakan kepergianmu.

Sebagai manusia yang pernah hidup denganmu, pernah berkenalan denganmu, dan akrab denganmu, tentu saja aku betul-betul merasa kehilangan. Mungkin setelah kedua orangtuamu, aku adalah orang yang ikut merasakan kepedihan itu.

Dan sewajarnya manusia biasa, kau dan aku adalah manusia yang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Kekuranganmu sudah kami lupakan, dan kelebihanmu akan tetap kami kenang: Maka tenanglah, temanku, semua akan baik-baik saja. Doa-doa kami akan menemanimu malam ini dan malam-malam selanjutnya. Dan, tempatmu adalah surga!

...
Selamat jalan
Fikri Lutfian
Semoga kau tenang
Allahummaghfir lahu
Warhamhu
Wa’afihi wa’fu’anhu!

Tegalsari,
Senin, 25 November 2013
 —05:55 pm


0 komentar:

Posting Komentar