: Kepada Fikri Lutfian
Izinkan aku
mengatakan kembali kesedihanku melalui kalimat-kalimat yang cacat.
Kalimat-kesedihan tentang kepergianmu, yang terlebih dahulu meninggalkanku,
juga teman-teman kita.
Jika ada banyak orang yang
menangisi kepergianmu, barangkali aku adalah salah satunya. Mengetahui bahwa
kau telah tiada, aku tak percaya, seperti orang-orang yang lainnya. Kepergianmu
kali ini berbeda dengan kepergianmu saat meninggalkan kami untuk melanjutkan studi ke luar kota usai kita lulus dari bangku SMP.
Saat itu acara pengumuman
kelulusan sekolah baru
saja berakhir. Dan seluruh siswa di sekolah kita, lulus semua.
Aku masih mengingat bagaimana
caranya kau tertawa, meluapkan kelulusan kita bersama. “Aku lulus!” katamu
seraya mengepalkan tangan kananmu ke udara. Aku masih ingat betul bagaimana
caranya kau mengekspresikan kelulusanmu—empat tahun lalu....
Andai kenangan dapat
disederhanakan menjadi sebuah tangga, aku ingin turun ke tangga pertama: saat
pertama kali kita berkenalan. Atau ke tangga kedua: saat kita
duduk-kelelahan di depan asrama setelah bermain sepakbola. Atau ke tangga keberapa saja, waktu kau bercerita ingin
memiliki HP baru dan sepeda.
Aku ingin turun ke tangga di mana
kau mengantarkanku pulang ke rumah waktu aku sakit. Aku ingin turun ke tangga-tangga itu, ke kenangan
kita berdua: Aku ingin
mengajakmu lebih akrab lagi—menyusun hari yang lebih baik dari sebelumnya.
Darimu, aku
belajar banyak hal. Tentang bagaimana caranya kata ‘persahabatan’ itu bekerja.
Memang tak ada yang salah
denganmu dan denganku. Hidup berjalan sesuai aturanNya. Di mana kematian adalah alam ketiga setelah kita berada di kandungan dan di dunia. Dan
giliranmu kini memasuki tempat
itu... alam ketiga itu.
Barangkali
kesedihan atau rasa tak percaya itu tetap ada di dadaku. Tapi, bagaimanapun
juga, aku harus merelakan kepergianmu.
Sebagai
manusia yang pernah hidup denganmu, pernah berkenalan denganmu, dan akrab
denganmu, tentu saja aku betul-betul merasa kehilangan. Mungkin setelah kedua orangtuamu, aku adalah orang yang
ikut merasakan kepedihan itu.
Dan sewajarnya manusia biasa, kau
dan aku adalah manusia yang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.
Kekuranganmu sudah kami lupakan, dan kelebihanmu akan tetap kami kenang: Maka tenanglah,
temanku, semua akan baik-baik saja. Doa-doa kami akan menemanimu
malam ini dan malam-malam selanjutnya. Dan, tempatmu adalah surga!
...
Selamat
jalan
Fikri
Lutfian
Semoga
kau tenang
Allahummaghfir
lahu
Warhamhu
Wa’afihi
wa’fu’anhu!
Tegalsari,
Senin, 25 November 2013

0 komentar:
Posting Komentar