Kamis, 01 Mei 2014

: Pamanku

Mendadak mataku terasa panas. Pandanganku terselubungi kristal bening. Tak lama, aku menunduk. Wajahmu berkelebat di benakku. Semua mengenai dan tentangmu seketika menyeruak membikin dadaku makin sesak.

Aku belum bisa melakukan seperti apa yang kaukatakan padaku kemarin siang: Besok sore aku pergi, kamu tidak usah bersedih! Ah, airmataku menitik di sarungku yang bermotif kotak-kotak. Aku terlanjur tak kuasa membendung gejolak hati.

Dua jam sebelum azan maghrib berkumandang, aku duduk di kursi depan rumah—mencoba mendinginkan mataku yang sejak pagi hendak menyungai kecil di pipi. Baru sebentar aku berada di sana, tiba-tiba saja kau datang, lekas duduk tepat di sebelah kiriku, lantas berkata: Dua jam lagi aku pergi, kamu tidak usah bersedih!

Hatiku bergemuruh, tentu saja.

Aku mengibas-ngibaskan kepalaku ke sekitar—berusaha membuang segala ingatan tentangmu. Pandanganku kubuang ke kiri-kanan. Namun begitu, wajahmu tetap melekat-erat di saung benakku.

Dua jam berlalu. Kini, kau kembali membikin jantungku berguncang, dahsyat. Entah ada berapa detak dalam satu detik. Lagi, kau mengatakannya—sedikit berbeda namun amat mengena: Aku pergi, kamu tidak usah bersedih!

Kini, kau benar-benar pergi dari sini, dariku.


Maafkan aku, maafkan aku, Paman. Baru sebentar kau tinggal, rinduku padamu sudah tak karuan....

*Gambar dari sini.


0 komentar:

Posting Komentar