: Pamanku
Mendadak mataku terasa panas.
Pandanganku terselubungi kristal bening. Tak lama, aku menunduk. Wajahmu
berkelebat di benakku. Semua mengenai dan tentangmu seketika menyeruak membikin
dadaku makin sesak.
Aku belum bisa melakukan seperti
apa yang kaukatakan padaku kemarin siang: Besok sore aku pergi, kamu tidak
usah bersedih! Ah, airmataku menitik di sarungku yang bermotif
kotak-kotak. Aku terlanjur tak kuasa membendung gejolak hati.
Dua jam sebelum azan maghrib
berkumandang, aku duduk di kursi depan rumah—mencoba mendinginkan mataku yang
sejak pagi hendak menyungai kecil di pipi. Baru sebentar aku berada di sana,
tiba-tiba saja kau datang, lekas duduk tepat di sebelah kiriku, lantas berkata: Dua jam
lagi aku pergi, kamu tidak usah bersedih!
Hatiku bergemuruh, tentu saja.
Aku mengibas-ngibaskan kepalaku
ke sekitar—berusaha membuang segala ingatan tentangmu. Pandanganku kubuang ke
kiri-kanan. Namun begitu, wajahmu tetap melekat-erat di saung benakku.
Dua jam berlalu. Kini, kau
kembali membikin jantungku berguncang, dahsyat. Entah ada berapa detak dalam
satu detik. Lagi, kau mengatakannya—sedikit berbeda namun amat mengena: Aku pergi, kamu tidak usah bersedih!
Kini, kau benar-benar pergi dari
sini, dariku.
Maafkan aku, maafkan aku, Paman. Baru sebentar kau tinggal, rinduku padamu sudah tak karuan....


0 komentar:
Posting Komentar