Minggu, 16 Maret 2014

Sebelum terlelap, apa harapan bila kau kembali bisa bertemu esok pagi?

Tiba-tiba, malam ini aku teringat pertanyaan yang kuajukan buat diriku sendiri—mengulang kembali kebiasaan-kebiasaan lamaku waktu kecil. Aku bergelimpungan di atas tempat tidur, menekuri kehidupan yang kujalani akhir-akhir ini: Apakah aku telah menjadi manusia yang didambakan ibunya?

Dadaku sakit, semacam ditohok sesuatu yang berat, entah apa. Jantungku serasa berhenti sejenak. Oh!

Sebelum terlelap, apa harapan bila kau kembali bisa bertemu esok pagi?

Aku kembali diingatkan oleh pertanyaan itu. Pertanyaan yang bercokol dalam benakku saat aku masih sekolah dasar dan selalu tiba-hadir ketika menjelang tidur.

Apa yang sebenarnya aku harapkan dalam hidup ini? Hatiku sibuk menerka-nerka. Mataku mencari-cari sesuatu entah yang terselip di antara sudut-sudut kamarku. Pikiranku bertanya-tanya. Jiwaku melayang... .

Aku melihat jam digital yang tergeletak di meja sebelah tempat tidurku. Jam menjunjukkan angka 23.00. Rupanya sudah larut. Tetapi aku belum mengantuk. Pikiranku masih sibuk sendiri, ingin menjawab pertanyaan tadi. Seolah ia menuntut sebuah jawaban malam ini juga. Ah.

Aku memang sering mengalami kejadian semacam ini. Tetapi itu dulu, saat aku masih sekolah dasar. Kira-kira umurku waktu itu delapan atau sembilan tahunan. Mungkin aku masih kelas empat atau malah kelas tiga. Aku agak lupa.

Malam menjelang tidur, saat itu, aku seolah sedang berdialog dengan diriku sendiri. Yang jelas aku tak sedang kesurupan jin manapun. Ini hanya pertanyaan sepele yang muncul secara tiba-tiba menjelang aku tidur. Dan pertanyaan itu kini kembali datang padaku, menyelinap diam-diam ke kamarku, setelah sekian tahun aku dan pertanyaan itu tak lagi pernah bertemu:

Sebelum terlelap, apa harapan bila kau kembali bisa bertemu esok pagi?

Oh!

Sementara aku masih belum bisa menjawab, ingatanku terbang dan hinggap ke salah satu peristiwa saat aku berjalan di sebuah jalanan sepi, beberapa hari yang lalu.

***

Ada dua orang yang sedang bercakap-cakap dan bermain catur, di sebuah kedai warung yang sudah tutup.

Sekak!” salah satu dari mereka berteriak ketika mengetahui lawannya salah langkah.

Si lawan tampak panik tetapi buru-buru menyeruput segelas kopi hitam di sebelah kanan papan catur—menenangkan diri. Sejurus dia berpikir keras untuk keluar dari ancaman sang musuh tadi. Dahinya mengernyit. Alisnya hampir bertaut. Ia kemudian tersadar jika rupanya langkahnya dalam permainan tersebut sudah mati lantas menyerah. Kalah.

Sang lawan menyeringai. “Hahaha. Kamu ini! Hidup harus maju, bro. Kalau tadi sudah kalah, sekarang harusnya kamu bisa menang! Tapi kamu kalah lagi dan kalah lagi! Hahaha.”

Aku sudah berjalan cukup jauh dan membelakangi mereka. Sayup-sayup suara mereka berdua semakin pelan... dan tak terdengar. Aku tertarik pada perkataan pemain catur tadi: “Hidup ini harus maju!”

Hidup harus maju?

Aku mengangkat alisku sebelah. Apakah benar hidup ini harus maju? Aku mengulang pertanyaan itu beberapa kali. Sebentar, sebentar. Aku mendapati ada yang ganjil dengan perkataan si pemain catur tadi.

Ah, mungkin aku perlu mengistirahatkan tubuhku dulu, setelah sejak tadi aku berjalan beberapa kilometer, menyusuri jalanan sepi, di sebuah desa, pikirku.

Hingga tiba aku di rumah. Baju yang kupakai basah di bagian belakang, akibat keringat. Aku mengambil air putih di kulkas untuk kucampur dengan sirop. Lantas duduk di kursi panjang ruang tamu, sekali-dua meminum sirop segar yang kubuat barusan. Tegukan demi tegukan kunikmati dan kurasakan.

“Hidup ini harus maju!”

Ah. Aku teingat kembali dengan perkataan si pemain catur tadi. Baiklah, aku menyerah. Aku akan duduk-duduk sebentar untuk memikirkan apa sebenarnya esensi dari ‘hidup harus maju’ itu. Pertama mungkin aku harus mendefinisikan kata ‘hidup’ terlebih dahulu.

Hidup. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: v 1 masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya (tt manusia, binatang, tumbuhan, dsb); 2 bertempat tinggal (diam); 3 mengalami kehidupan dl keadaan atau dng cara tertentu; 4 beroleh (mendapat) rezeki dng jalan sesuatu; 5 berlangsung (ada) krn sesuatu; 6 tetap ada (tidak hilang); 7 masih berjalan (tt perusahaan, perkumpulan, dsb); 8 tetap menyala (tt lampu, radio, api); tetap bergerak terus; 9 masih tetap dipakai (tt bahasa, adat, sumur, dsb); 10 ramai (tidak sepi dsb); 11 seakan-akan bernyawa atau benar-benar tampak spt keadaan sesungguhnya (tt lukisan, gambar); 12 spt sungguh-sungguh terjadi atau dialami (tt cerita)... .

Ah, membingungkan. Pada pengertian pertama soal hidup, KBBI mengatakan bahwa hidup adalah masih terus ada, bergerak, dan bekerja. Misalnya: “Kakeknya masih hidup, tetapi neneknya telah lama meninggal.”

Hmmm, mungkin penjelasan pertama ini bisa kuterima. Aku mengambil bahan ini saja untuk dibahas. Jadi, dari sini, mungkin pengertian hidup bisa lebih dipersempit dalam kalimat seperti ini: Hidup adalah ketika kita masih bisa melakukan apapun. Benarkah? Barangkali.

Tetapi tunggu sebentar. Tadi, kata si pemain catur, hidup itu harus maju. Hei, kenapa harus ‘maju’?

Aku memilih diam sejenak untuk meneguk sirop yang telah habis separuh.

Jadi, kenapa hidup harus ‘maju’?

Saat di sekolah, aku sering mendengar guru-guru bertutur seperti itu. Mereka seolah berperan bagai motivator.

“Eh, soal segampang ini saja kamu ndak bisa!? Bagaimana kamu bisa lulus, hah!? Bodoh! Untuk lulus UN itu kamu harus belajar dan hidup maju! Jika soal kayak gini ndak bisa, kamu gak bakal lulus!” ujar seorang guru pada salah satu murid yang tak bisa mengerjakan soal Kimia, di depan kelas. Murid itu malu dan tertunduk.

Entah kesurupan jin dari negara mana guru tersebut. Entah kenapa, akhir-akhir ini banyak sekali guru yang ketika mendapati muridnya tidak bisa satu soal saja, mudah sekali mengatakan muridnya bodoh, tolol, dungu, dan seterusnya, dan seterusnya. Seolah guru adalah manusia paling pandai dan paling baik, di dunia ini. Sampai ada yang menyerapahi muridnya dengan kata-kata yang tak sepatutnya. Padahal, akibat perkataan kotor yang keluar dari lisan seseorang, siapapun, kelak akan menjadi kenyataan-kenyataan, kan?

Tetapi sudahlah. Itu urusan guru itu! Aku tak mau ikut campur. Biarlah ditanggung sendiri. Aku hanya ingin membahas satu soal saja dari perkataan guru tadi: kita harus hidup maju. Kenapa harus maju?

Baiklah, maksudku sebenarnya begini.

Kita mungkin sedang berada dalam labirin. Hidup manusia sejak dulu hanya seperti itu-itu saja. Dahulu ibu kita dilahirkan dari rahim ibunya. Kemudian ibu kita melahirkan kita, anaknya. Lantas, ibu dari ibu kita kemudian meninggal, dan kita melahirkan anak, dan kelak ibu kita meninggal... .

Tentunya sudah bisa ditebak, kan,  bahwa hidup manusia di dunia sebenarnya adalah sebuah daur atau siklus tetapyang tak bisa diubah: Dilahirkan untuk melahirkan, dan kemudian meninggal!

Lalu apakah manusia harus hidup (untuk) maju? Ketika kita menginginkan untuk hidup maju, bukankah yang terjadi adalah malah sebaliknya? Pada saat itu sebenarnya kita tengah hidup mundur—karena jelas, kita akan meninggal, bukan?

Kemudian apa bedanya usia-kecil-remaja-dewasa-dan-tua?

Selama ini kita sering mendengar seperti ini: “Usiamu sudah tua, namun perilakumu masih anak kecil!” atau, “Aku salut denganmu. Kamu masih kecil tetapi perilakumu menunjukkan sudah dewasa.”

Aku jadi ragu dengan pengklasifikasian umur dalam pelajaran Sosiologi yang diajarkan oleh guruku saat aku masih kelas dua SLTA, dulu. Aku menemukan banyak kejadian bahwa orang-orang yang sudah tua justru seringkali melakukan tindakan-tindakan yang mirip dengan anak kecil. Juga, tak jarang dari mereka yang kualitas pancaindranya menurun. Seperti menjadi semakin pelupa atau kurang bisa mendengar.

Jika kualitas organ tubuh orang tua semakin menurun dan tak berfungsi dengan baik, apakah sebenarnya kita ini sedang hidup menuju ke arah kemajuan? Jangan-jangan kita justru mengarah ke kemunduran?

Aku menghabiskan sirop yang kubuat hingga hanya tersisa es yang beku di gelas.

Malam itu, pernyataan si pemain catur bahwa hidup harus maju benar-benar menyita pikiranku. Aku sampai harus membuka-buka kamus, mengingat-ingat kakek-nenekku yang telah meninggal, mengingat ibuku, dan semuanya. Namun aku belum mengerti benar jawaban itu.

Entahlah.

Barangkali esok atau lusa aku akan berdiskusi dengan teman atau guruku, untuk menanyakan hal (tak penting) ini. Kurasa aku butuh istirahat sekarang.

***

Aku kembali mendarat di dalam kamar setelah aku melayang dalam ingatan pemain catur yang kulihat di sebuah kedai warung yang tutup, beberapa hari yang lalu. Aku menoleh ke arah jam digitalku. 01.12. Oh! Penerbanganku rupanya cukup lama.

Sebelum terlelap, apa harapan bila kau kembali bisa bertemu esok pagi?

Aku kembali dihadapkan pada sebuah pertanyaan masa kecilku. Waktu kecil dulu, bila pertanyaan itu menghampiriku, aku selalu menatap wajah Ibu dan membayangkan kami berada dalam suatu tempat yang sebetulnya tidak jauh. Tetapi kami tak bisa bersama sebab di hadapan kami ada jurang yang membentang. Aku dan Ibu barangkali masih bisa bertatapan muka, tetapi kami tak bisa berbuat apa-apa.

Saat itu dalam bayanganku, wajah Ibu tampak sangat cemas sekali mendapati aku yang menangis meraung—mendamba segera pelukannya. Dalam kenyataan yang sebenarnya, aku benar-benar menangis di samping Ibu yang sudah terlelap. Lalu Ibu mendengar tangisku, dan buru-buru ia memelukku, erat-erat.

“Ada apa?” tanyanya, “Tenang, ibu ada di sini, dan jangan menangis.”

Tetapi aku tetap menangis. Menangisi anak dan Ibu dalam bayanganku: Saat kami tak bisa saling memeluk karena terpisah jurang.

Dan apa yang paling menyakitkan di dunia ini? Adalah ketika kita mendamba pelukan Ibu atau tangannya yang mengacak-acak rambut kita, tetapi rupanya Ibu kita sudah tiada.

Maka, apa harapan bila aku kembali bisa bertemu esok pagi?

Aku berharap Ibu masih membangunkanku untuk salat subuh.

Tegalsari,
Selasa, 04 Maret 2014

—06:57 pm
*Gambar dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar