Suatu hari kita akan duduk berdua, atau bertiga, atau berempat di
halaman belakang rumah, membuka-buka album kenangan dan menyelam di sana—
Lihatlah, perubahan itu
betul-betul terjadi, roda kehidupan memang berputar. Dan ia akan terus
berputar. Barangkali saat itu kita akan tertawa-tawa bersama. Menertawakan
ajaibnya dunia, dan Mahaadilnya Dia.
Dan lihatlah, betapa hidup
kita telah berubah: Rumah kita kini tak
kalah dengan tetangga-tetangga sebelah. Motor kita yang jadul itu, kini sedang
istirahat menikmati sisa-sisa pengabdiannya di ‘museum pribadi’—digantikan oleh
motor baru. Hanya beberapa kali saja kita memakainya, kadang saat sore, ketika
kau hendak melihat-lihat tanaman cabai di kebun.
Sekarang kita memiliki kebun
sendiri. Paman tak perlu lagi menyewa lahan milik orang lain, seperti dulu. Sementara,
kuliahku sudah separuh berjalan. Tinggal 2 tahun lagi aku lulus: Semoga dengan
predikat baik.
Suatu hari nanti, kita akan membuka-buka album kenangan dan menyelam di
sana, dengan perasaan haru—tak percaya.
Kenangkanlah.
Apa kabar atap kita yang bocor
tiap kali hujan turun, dulu? Ah, beberapa kali aku sempat tersenyum melihat
perubahan rumah kita yang jauh lebih layak dari sebelumnya; setidaknya, tiap
kali hujan turun, aku tak perlu lagi berlari-lari mencari bak mandi untuk
menadah air hujan yang berhasil menerobos atap rumah yang rapuh.
Kini, atap kita sudah diganti
dengan plafon. Dan itu kabar baik. Setidaknya hujan tak menembus atap rumah.
Kadang-kadang, aku juga masih
mengingat betapa kita berdua menjadi peragu saat membicarakan persoalan ekonomi:
Kau khawatir aku tak bisa menyelesaikan sekolah, dan aku hanya tersenyum kecut
mendengar keluhanmu barusan. Sejujurnya aku juga khawatir. Dibanding aku, tentu
kau jauh lebih khawatir.
Tetapi, buru-buru kau membalik
180 derajat persepsimu atas semua ini, dan berkata padaku—masih dengan muka
ragu, “Ah. Bukankah ketika kita yakin
bisa, Tuhan akan berbaik hati meluluskan semua ujian berat ini?”
Aku mendengus pelan.
Beberapa kenyataan memang tak semua mulus, kan? Seperti beberapa jalan tak semua lurus. Kadang ia sengaja dibuat berkelok,
atau bahkan bercabang. Dan bersyukurlah kita. Dari situ kita bisa berhenti
sejenak untuk istirahat, memulihkan tenaga yang terkuras.
Kita bisa duduk-duduk santai di tepiannya, bukan? Mungkin akan lebih
nikmat sambil minum es jeruk, sekadar melunasi dahaga. Jika sudah, mari kita
berjalan kembali. Kita hanya perlu mengikuti lajur tersebut sembari menikmati
perjalanan tanpa perlu mengeluh.
Lagi-lagi aku selalu bergumam
kalimat itu untuk menguatkan keyakinanku yang mulai goyang. Ah.
Lihatlah semuanya sekarang. Aku
bisa lulus sekolah. Dan Tuhan benar-benar meluluskan ujian berat itu.
Dan saat itu, kita masih belum percaya, bahwa kenyataan hidup kita jauh
lebih indah daripada kecemasan-kecemasan kita tentang masa depan, yang kita
bayangkan sebelumnya.
“Hei, lihat ini!” kau menunjuk foto kedai warung bercat kuning. Tercenung
agak lama. Lantas tertawa. Lagi-lagi tertawa yang lebih menyiratkan rasa tak
percaya.
Warung kecil di pinggir jalan
itu kini telah menjelma warung makan yang terkenal. Bahkan memiliki beberapa
cabang. Tuhan benar-benar mengentaskan
kita dari sungai ujian, katamu. Ini menggembirakan. Sungguh.
Dan kabar yang tak kalah
menggembirakan, sebentar lagi Paman akan menikah dengan perempuan yang cantik
dan baik, tentu saja. Setelah sekian puluh tahun menemani perjalanan kita,
beliau menikah. Dua minggu lagi.
Akhirnya hari bahagia itu
segera datang, menjemputnya!
Kini aku rela melihat Paman
menikah, berbahagia dengan istrinya. Rela sepenuhnya. Sebab aku percaya perempuan
yang menjadi tambatan hati Paman adalah perempuan yang mau menerima—kekurangan sekaligus
kelebihan beliau. Dan itu sangat penting sekali!
Tentang ‘kepercayaan’ dan ‘menerima’,
aku adalah orang yang mencatat nasihat itu.
Teringat dulu, saat aku kecil,
Paman selalu berpesan singkat padaku setiap kami mengobrol di bangku depan
rumah.
“Belajar menerima itu sulit. Menerima sakit, menerima sehat, menerima
kaya, susah, sedih, dan semuanya. Terlampau sulit bahkan. Maka kenapa sampai
sekarang aku selalu berpesan padamu agar menjadi manusia yang ikhlas menerima? Itu
tadi: karena menerima itu sulit. Apalagi menerima kenyataan yang tak sesuai
harapan kita. Dan hingga kini aku sedang belajar untuk itu.”
Beliau selalu mengulang-ulang
kalimat itu kepadaku hingga aku lulus SLTA—bahkan hingga kini.
“Membangun kepercayaan itu tak segampang mendirikan tugu di perempatan,
juga tak semudah memperbaiki jalan-jalan yang rusak—berlubang.”
Paman menasihatiku saat aku
kedapatan merokok di belakangnya.
“Dalam proses perbaikan tugu atau jalan bisa saja mengalami kemandekan,
karena uang yang dikucurkan ke bawah dikorupsi sehingga tersendat di
tengah-tengah. Tetapi soal membangun kepercayaan, ia akan tetap mengalami
kesulitan atau bahkan tak lekas rampung meski uang mengalir sederas air terjun,
sekalipun. Dan itu terjadi manakala kita berkhianat—tak bisa dipercaya.”
Dulu aku tak mengerti dengan
perkataan Paman. Tetapi sekarang, sekarang aku mengerti. Dan sangat mengerti. Dan
aku ikhlas dengan pernikahanmu, Pamanku.
Suatu hari nanti, Bunda, kita akan duduk di halaman belakang rumah kita,
membuka-buka album foto kenangan kita, dan tertawa-tawa. Menertawakan betapa
ajaibnya dunia, dan betapa Mahaadilnya Dia—barangkali masih dengan perasaan tak
percaya, barangkali tidak… .
Stembel,
Rabu, 12 Maret 2014
—11:05 pm
*Gambar diambil dari sini.


0 komentar:
Posting Komentar