Rabu, 12 Maret 2014

Suatu hari kita akan duduk berdua, atau bertiga, atau berempat di halaman belakang rumah, membuka-buka album kenangan dan menyelam di sana—

Lihatlah, perubahan itu betul-betul terjadi, roda kehidupan memang berputar. Dan ia akan terus berputar. Barangkali saat itu kita akan tertawa-tawa bersama. Menertawakan ajaibnya dunia, dan Mahaadilnya Dia.

Dan lihatlah, betapa hidup kita telah berubah:  Rumah kita kini tak kalah dengan tetangga-tetangga sebelah. Motor kita yang jadul itu, kini sedang istirahat menikmati sisa-sisa pengabdiannya di ‘museum pribadi’—digantikan oleh motor baru. Hanya beberapa kali saja kita memakainya, kadang saat sore, ketika kau hendak melihat-lihat tanaman cabai di kebun.

Sekarang kita memiliki kebun sendiri. Paman tak perlu lagi menyewa lahan milik orang lain, seperti dulu. Sementara, kuliahku sudah separuh berjalan. Tinggal 2 tahun lagi aku lulus: Semoga dengan predikat baik.

Suatu hari nanti, kita akan membuka-buka album kenangan dan menyelam di sana, dengan perasaan haru—tak percaya.

Kenangkanlah.

Apa kabar atap kita yang bocor tiap kali hujan turun, dulu? Ah, beberapa kali aku sempat tersenyum melihat perubahan rumah kita yang jauh lebih layak dari sebelumnya; setidaknya, tiap kali hujan turun, aku tak perlu lagi berlari-lari mencari bak mandi untuk menadah air hujan yang berhasil menerobos atap rumah yang rapuh.

Kini, atap kita sudah diganti dengan plafon. Dan itu kabar baik. Setidaknya hujan tak menembus atap rumah.

Kadang-kadang, aku juga masih mengingat betapa kita berdua menjadi peragu saat membicarakan persoalan ekonomi: Kau khawatir aku tak bisa menyelesaikan sekolah, dan aku hanya tersenyum kecut mendengar keluhanmu barusan. Sejujurnya aku juga khawatir. Dibanding aku, tentu kau jauh lebih khawatir.

Tetapi, buru-buru kau membalik 180 derajat persepsimu atas semua ini, dan berkata padaku—masih dengan muka ragu, “Ah. Bukankah ketika kita yakin bisa, Tuhan akan berbaik hati meluluskan semua ujian berat ini?”

Aku mendengus pelan.

Beberapa kenyataan memang tak semua mulus, kan? Seperti beberapa jalan tak semua lurus. Kadang ia sengaja dibuat berkelok, atau bahkan bercabang. Dan bersyukurlah kita. Dari situ kita bisa berhenti sejenak untuk istirahat, memulihkan tenaga yang terkuras.

Kita bisa duduk-duduk santai di tepiannya, bukan? Mungkin akan lebih nikmat sambil minum es jeruk, sekadar melunasi dahaga. Jika sudah, mari kita berjalan kembali. Kita hanya perlu mengikuti lajur tersebut sembari menikmati perjalanan tanpa perlu mengeluh.

Lagi-lagi aku selalu bergumam kalimat itu untuk menguatkan keyakinanku yang mulai goyang. Ah.

Lihatlah semuanya sekarang. Aku bisa lulus sekolah. Dan Tuhan benar-benar meluluskan ujian berat itu.

Dan saat itu, kita masih belum percaya, bahwa kenyataan hidup kita jauh lebih indah daripada kecemasan-kecemasan kita tentang masa depan, yang kita bayangkan sebelumnya.

“Hei, lihat ini!” kau menunjuk foto kedai warung bercat kuning. Tercenung agak lama. Lantas tertawa. Lagi-lagi tertawa yang lebih menyiratkan rasa tak percaya.

Warung kecil di pinggir jalan itu kini telah menjelma warung makan yang terkenal. Bahkan memiliki beberapa cabang. Tuhan benar-benar mengentaskan kita dari sungai ujian, katamu. Ini menggembirakan. Sungguh.

Dan kabar yang tak kalah menggembirakan, sebentar lagi Paman akan menikah dengan perempuan yang cantik dan baik, tentu saja. Setelah sekian puluh tahun menemani perjalanan kita, beliau menikah. Dua minggu lagi.

Akhirnya hari bahagia itu segera datang, menjemputnya!

Kini aku rela melihat Paman menikah, berbahagia dengan istrinya. Rela sepenuhnya. Sebab aku percaya perempuan yang menjadi tambatan hati Paman adalah perempuan yang mau menerima—kekurangan sekaligus kelebihan beliau. Dan itu sangat penting sekali!

Tentang ‘kepercayaan’ dan ‘menerima’, aku adalah orang yang mencatat nasihat itu.

Teringat dulu, saat aku kecil, Paman selalu berpesan singkat padaku setiap kami mengobrol di bangku depan rumah.

“Belajar menerima itu sulit. Menerima sakit, menerima sehat, menerima kaya, susah, sedih, dan semuanya. Terlampau sulit bahkan. Maka kenapa sampai sekarang aku selalu berpesan padamu agar menjadi manusia yang ikhlas menerima? Itu tadi: karena menerima itu sulit. Apalagi menerima kenyataan yang tak sesuai harapan kita. Dan hingga kini aku sedang belajar untuk itu.”

Beliau selalu mengulang-ulang kalimat itu kepadaku hingga aku lulus SLTA—bahkan hingga kini.

“Membangun kepercayaan itu tak segampang mendirikan tugu di perempatan, juga tak semudah memperbaiki jalan-jalan yang rusak—berlubang.”

Paman menasihatiku saat aku kedapatan merokok di belakangnya.

“Dalam proses perbaikan tugu atau jalan bisa saja mengalami kemandekan, karena uang yang dikucurkan ke bawah dikorupsi sehingga tersendat di tengah-tengah. Tetapi soal membangun kepercayaan, ia akan tetap mengalami kesulitan atau bahkan tak lekas rampung meski uang mengalir sederas air terjun, sekalipun. Dan itu terjadi manakala kita berkhianat—tak bisa dipercaya.”

Dulu aku tak mengerti dengan perkataan Paman. Tetapi sekarang, sekarang aku mengerti. Dan sangat mengerti. Dan aku ikhlas dengan pernikahanmu, Pamanku.

Suatu hari nanti, Bunda, kita akan duduk di halaman belakang rumah kita, membuka-buka album foto kenangan kita, dan tertawa-tawa. Menertawakan betapa ajaibnya dunia, dan betapa Mahaadilnya Dia—barangkali masih dengan perasaan tak percaya, barangkali tidak… .

Stembel,
Rabu, 12 Maret 2014

—11:05 pm
*Gambar diambil dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar