Setiap kita barangkali memiliki
keputusan-keputusan pribadi. Keputusan yang kita pikir adalah segalanya—yang
terbaik. Sudah sejak dulu berlaku, kita yang cenderung merasa benar seringkali
mengabaikan pendapat-pendapat orang lain yang sebetulnya lebih benar.
Seperti sebuah ungkapan, manusia adalah
makhluk sosial. Kita tidak bisa lepas dari bantuan orang lain; sekecil apapun
bantuan tersebut, kita butuh seseorang di sebelah untuk memapah jalan kita yang
gontai. Kita butuh orang di belakang untuk mendorong—meyakinkan agar kita tidak
ragu. Juga butuh bantuan orang lain di depan untuk memberitahukan jalan-jalan
yang berlubang, agar kita lebih waspada.
Apa boleh buat? Kita memang membutuhkan
orang-orang semacam itu, kan?
Dulu ketika masih Madrasah Aliyah, aku pernah
berkecimpung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah atau biasa dikenal dengan
Osis. Saat itu aku menjabat sebagai sekretaris umum. Kami beranggotakan 20
orang, terbagi dalam hierarki jabatan. Dan orang-orang yang menyandang jabatan
tersebut otomatis wajib melaksanakan tugas-tugas yang sudah ditentukan: Seperti
bendahara, bertugas memegang sekaligus mengatur siklus keluar-masuknya uang
agar seimbang; Sekretaris, bertugas penuh dalam pembuatan surat-surat resmi
ketika akan melakukan kegiatan apapun; Ketua, berperan penuh dalam organisasi
yang dipimpinnya, termasuk bertanggung jawab atas apa-apa yang terjadi, suatu
saat.
Tetapi jabatan-jabatan dan tugas-tugas
tersebut hanya sekadar formalitas belaka. Dalam bahasa kasarnya, kita biasa
menyebutnya ‘titip nama’ untuk dibubuhkan dalam kertas yang bersampul “Sruktur
Anggota Osis”—di mana setiap orang yang dirasa cocok dan kebetulan terpilih,
mereka akan dicantumkan dalam struktur tersebut. Dan syukurlah, karena sebagian
besar anggotanya titip nama, maka kinerja Osis kami cukup berantakan.
Aku bersama ketua Osis waktu itu bekerja
sendiri. Maksudku, kami mengerjakan tugas yang sebetulnya bukan tugas kami. Hal
ini terjadi seperti saat Osis akan mengadakan donor darah, misalnya. Seminggu
sebelum kegiatan biasanya Osis mengadakan rapat menyusul akan diadakannya donor
darah. Agenda rapat ini biasanya bertujuan untuk menentukan panitia
pelaksananya. Seperti menentukan ketua, wakil, sekretaris, bendahara, termasuk
seksi-seksinya. Jadi setiap Osis mengadakan kegiatan, maka panitia kegiatan
tersebut harus berganti. Hal ini memiliki tujuan agar semua anggota terampil
dan kreatif. Diharapkan pula, dengan dibentuknya srtuktur kepanitiaan kegiatan yang
bergilir, mereka-mereka yang belum bisa membuat surat perizinan atau semacamnya,
misalnya, bisa berkonsultasi kepada sekretaris umum atau ke pembimbing Osis
langsung untuk meminta panduan.
Pada kenyataannya, panitia yang terpilih tadi
tak ada yang bekerja; hanya satu-dua yang benar-benar tanggap. Soal surat-menyurat
dan poster akhirnya aku yang membuat. Lalu untuk pengoordinasian langsung
ditangani ketua Osis. Sementara mana panitia yang lain? Jawabnya: entahlah.
Dalam situasi semacam itu, aku kembali
menyelam dalam asal-mula pembentukan struktur Osis. Sejak awal, aku dan ketua
memang tidak melakukan observasi secara matang. Dalam bentuk lain, kami berdua
memilih anggota sesuai hati kami: jika dirasa cocok, maka kami masukkan ke
dalam buku Struktur Anggota Osis, seperti yang kukatakan di atas tadi. Kemudian
pada penyelaman itu aku menemukan titik kesimpulannya: Aku—bersama ketua Osis,
saat itu—memilih anggota kurang bersosialisasi dengan pihak-pihak tertentu,
misalnya wali kelas, guru-guru, termasuk siswa-siswa itu sendiri. Kami lupa dan
tak mendengarkan mereka lebih dulu.
Aku jadi teringat suatu nasihat, begini: “Pemimpin
yang baik adalah pendengar yang baik.”
Mungkin karena jabatanku saat itu berada di
atas, setidaknya berada di barisan atas setelah ketua dan wakil, aku jadi
seenaknya saja memilih siapa-siapa, memutuskan keputusan sendiri—tanpa
mendegarkan orang lain... tanpa bersosialisasi dengan pihak lain. Hingga
kemudian aku sendiri yang merasa kerepotan.
Aku tidak tahu jika kini di antara kita ada yang
tengah mengalami situasi semacam yang kuceritakan di atas tadi. Yang jelas,
setiap struktural selalu membutuhkan koordinasi terhadap sekitar dan kita perlu
mendengarkan mereka. Terserah itu Osis, Bem, sekolah-sekolah, kelas, juga
perkuliahan. Ah ya, termasuk ketika mengadakan suatu kegiatan pun kita mesti
memerlukan koordinasi kepada pihak-pihak yang bersangkutan. Sebab, itu tadi,
kita tidak bisa lepas dari peran orang-orang atau pihak-pihak yang memapah
kita, yang mendorong kita, dan yang memperingatkan untuk kita waspada.
Dan jika kebetulan watak kita yang merasa
paling benar itu masih mengotot—tak mau mengalah, barangkali ada satu dugaan: Kita
bukan pendegar yang baik!
Tegalsari,
Senin, 03 Maret 2014
—12:32 pm*Gambar dari sini.


0 komentar:
Posting Komentar