Aku selalu mencintai momen pertemuan sepasang remaja
yang berhasil menemukan jawaban atas rahasia perasaannya: Kamu dan aku. Di
manapun kakiku memijak, ingatan itu selalu mengguyur hatiku—menjatuhkan hujan kenangan dalam ingatanku. Kenanglah,
Sayangku... saat-saat kita memutuskan untuk membuat skrip cinta milik kita sendiri. Di Februari.
Canda,
sampai kapan pun aku tetap mengingatnya
: langit mengeruh, matahari bersembunyi,
senja itu tak seperti biasanya
“kamu jadi keluar?” tanyaku
sementara bibir cahaya senja pelan-pelan menyedikit
bayangan wajahmu menekan-tekan handphone
tergambar jelas
di kepalaku
“tak tahu,” jawabmu singkat
aku membayangkan kita bertemu
aku membayangkan senyummu
aku membayangkan obrolan apa untuk pertemuan kita
aku membayangkan pertemuan kita—nanti malam
ah, kapan lagi kalau tak saat ini? batinku
“kenapa?”
“tidak apa-apa,” jawabanmu menyamarkan rencana
sekaligus menumbuhkan ajakan sederhana,
“ikut saja denganku,” kataku
“kemana?”
“ke mana saja. kita berdua.”
aku tak tahu pasti bagaimana ekspresimu waktu itu
tapi bayangan bahwa dirimu bahagia
bias aku simpulkan dari caramu menimpali pernyataanku
“tentu saja....”
lalu azan maghrib mengajak kita mengingatNya pada tempat yang berbeda
gambaran mata langit menyipit mengabadikan semuanya
sampai kapan pun, Canda,
aku tetap mengingatnya
: dua remaja mengobrol
di teras
selepas hujan di Februari
yang deras,
lalu halaman waktu yang lebar
meleluasakan jalannya malam
kamu duduk,
aku berdiri tepat di depanmu
suasana masih dengan lantunan katak
malam itu bulan tak terlalu tampak
hanya lampu-lampu kota—menambah terang dunia
“aku suka kita di sini,” kataku
kamu tersenyum senang, aku melihatmu
sekali lagi dengan perasaan gemetaran dalam hati, aku menanyakannya
“aku mencintaimu,
dan ingin mengikatmu. bagaimana denganmu?” tanyaku hati-hati
tak ada
yang lebih membahagiakan dari jawabanmu malam itu...
“aku ikut perasaanmu,”
kau tersenyum,
aku tersenyum
: sepasang remaja yang berbahagia setelah mengungkapkan perasaan cintanya—
dengan caranya
tak ada
yang lebih mendamaikan, tentu saja
dari suaramu
yang indah dan senyummu yang manis
: seperti februari yang gerimis
Demikianlah,
Sayangku, tak ada yang lebih istimewa dari cerita kita: Dua remaja yang
saling mengikat dengan keyakinan
di bawah gugusan hujan. Kini, simpul itu tetap seperti dulu—yang kugunakan untuk mengikatmu.
Di Februari.
Jika mencintai adalah tentang ‘usaha’, aku akan berusaha mencintaimu dengan caraku.
Barangkali hingga tiba waktunya: Bersama keluarga, aku akan berkunjung ke rumahmu—untuk melamarmu. Tunggulah aku di depan pintu.
Blokagung,
Jum’at, 29 Maret 2013
—10:26 pm
Jum’at, 29 Maret 2013
—10:26 pm

0 komentar:
Posting Komentar