“Sayang, seminggu lagi kamu
ulang tahun, kan? Kamu ingin minta apa?” tanyamu.
“Aku belum ingin apa-apa,” jawabku lalu
tertawa kecil.
Aku mengencangkan tali sepatu. Kita siap berangkat sekolah. “Sudah siap?”
Kamu tersenyum, “Sudah.”
Di perjalanan kamu bertanya lagi. “Kamu
beneran tidak ingin apa-apa?”
“Eh? Tidak,” aku menggeleng.
Jalanan masih sepi. Pukul enam kita berangkat. Suasana kota memang
belum memperlihatkan wajahnya. Matahari masih enggan. Di perempatan, riuh pasar
masih terdengar. Sejumlah orang terlibat tawar-menawar.
Sejujurnya, jika seribu orang bertanya kepadaku: Kamu ingin kado apa untuk ulang tahunmu? Sebentar lagi kamu ulang
tahun. Minta kado apa? Dan seterusnya... maka aku ingin menjawab seperti
yang barusan kukatakan padamu, Aku tak
ingin apa-apa. Tentu saja. Sejak kecil aku diajarkan untuk tidak terlalu
berharap kepada orang lain yang telah atau belum kita kenal.
Kau tampak tidak suka mendengar jawabanku. Aku mengerti. Terang saja,
aku kekasihmu dan kamu kekasihku. Tentu kita ingin memberikan kado apa saja
yang terbaik untuk seseorang yang kita cintai. Bahkan tidak jarang segala
sesuatunya selalu tampak berlebihan untuk ukuran manusia normal yang tidak
sedang jatuh cinta.
“Ya sudah,” kamu melingkarkan
tangan ke tubuhku.
Suara klakson kendaraan dibunyikan. Ah, rupanya kita sedang berada di
depan mobil yang ingin belok. Suasana lampu merah memang seperti ini.
Perempatan yang tidak pernah benar-benar kita mengeri. Mengapa mesti ada lampu
merah-kuning-hijau di sini? Untuk apa kita menurut jika dipaksa berhenti dari
kesibukan kita sendiri? Belum lagi, Polantas yang tidak pernah mau mengerti
dengan keadaan kita yang mendesak. Apa perlunya helm? Apa perlunya lampu
dihidupkan di siang hari?
Apa gunanya semua itu?
Untuk menjaga keselamatan dan menghindar dari risiko kecelakaan? Ah,
ini nyawa kita sendiri, kan? Hidup
dan mati sudah ditentukan. Apa urusannya
dengan mereka?
***
Sementara kehidupan kota baru saja dimulai. Orang-orang berpakaian rapi
sedang mengemudi. Buruh-buruh pabrik melangkahkan kakinya di gigir jalan kota
yang panjang. Kendaraan berhiliran. Jam setengah tujuh kehidupan kota sudah
bersalin rupa menjadi objek perjalanan hidup sebagian besar manusia.
Tanganmu masih melingkar. Kini semakin erat. Entah perasaan apa yang
membimbing tangan kiriku memegang tanganmu. Ada debar yang terasa... Ada
ketenangan yang tercipta.
“Kamu tidak perlu memberikan
apa-apa kepadaku,” aku berusaha menenangkan perasaanmu, “Kita bisa merayakan ulang tahunku
bersama-sama, kan? Jalan-jalan
keliling kota, misalnya.”
Semoga kau bisa menerima pernyataanku. Aku tidak ingin membuang-buang
uang orang lain hanya untuk urusan pribadiku. Memang uang tidak akan sepenuhnya
dibuang lantas hilang, ia ditukar benda dengan wujud lain. Tetapi apa bedanya?
Menukar uang dengan sebuah benda untuk kemudian diberikan kepadaku hanya akan
membuat kesenanganku sendiri, kan?
Sementara orang lain hanya bisa merasa lega setelah melepaskan keinginannya
untuk memberi sesuatu kepadaku. Lebih baik kita rayakan bersama saja.
“Eh, iya, aku setuju.”
Ah ya, itu lebih baik. “Waktu
memang tidak pernah tua, Sayang. Tetapi ia selalu menjadi subjek yang bisa
menyulutkan sumbu usia kita. Seringkali kita tidak sadar dengan usia kita yang
semakin hari semakin mengurang. Orang-orang kebanyakan selalu tampak bangga
dengan bertambahnya angka dalam usia mereka.” Kamu mendengarkanku
berbicara, “Maka aku tidak ingin
menghilangkan sepersekian detik umurku untuk mengharapkan sesuatu-benda-hadiah
dari orang lain, termasuk kamu.”
Seperempat jam lagi jam tujuh. Kita sudah sampai sekolahan.
Di parkiran, kita memulai kehidupan kita seperti biasanya: menjadi anak remaja yang menularkan
senyumnya terhadap kekasihnya. Kedipan matamu, jabat tanganmu, senyummu,
dan suaramu menjadi pengganti uang sakuku di sekolahan. Tak ada yang lebih baik
darinya.
Dan aku tidak akan pernah bosan berkata kepadamu: “Pulang sekolah aku tunggu di sini.”
Jadi, kado apa yang kamu
inginkan dari seseorang untuk ulang tahunmu seminggu lagi? Tak ada. :-)

0 komentar:
Posting Komentar