Kamis, 16 Mei 2013

“Sayang, seminggu lagi kamu ulang tahun, kan? Kamu ingin minta apa?” tanyamu.

“Aku belum ingin apa-apa,” jawabku lalu tertawa kecil.

Aku mengencangkan tali sepatu. Kita siap berangkat sekolah. “Sudah siap?”

Kamu tersenyum, “Sudah.”

Di perjalanan kamu bertanya lagi. “Kamu beneran tidak ingin apa-apa?”

“Eh? Tidak,” aku menggeleng.

Jalanan masih sepi. Pukul enam kita berangkat. Suasana kota memang belum memperlihatkan wajahnya. Matahari masih enggan. Di perempatan, riuh pasar masih terdengar. Sejumlah orang terlibat tawar-menawar.

Sejujurnya, jika seribu orang bertanya kepadaku: Kamu ingin kado apa untuk ulang tahunmu? Sebentar lagi kamu ulang tahun. Minta kado apa? Dan seterusnya... maka aku ingin menjawab seperti yang barusan kukatakan padamu, Aku tak ingin apa-apa. Tentu saja. Sejak kecil aku diajarkan untuk tidak terlalu berharap kepada orang lain yang telah atau belum kita kenal.

Kau tampak tidak suka mendengar jawabanku. Aku mengerti. Terang saja, aku kekasihmu dan kamu kekasihku. Tentu kita ingin memberikan kado apa saja yang terbaik untuk seseorang yang kita cintai. Bahkan tidak jarang segala sesuatunya selalu tampak berlebihan untuk ukuran manusia normal yang tidak sedang jatuh cinta.

“Ya sudah,” kamu melingkarkan tangan ke tubuhku.

Suara klakson kendaraan dibunyikan. Ah, rupanya kita sedang berada di depan mobil yang ingin belok. Suasana lampu merah memang seperti ini. Perempatan yang tidak pernah benar-benar kita mengeri. Mengapa mesti ada lampu merah-kuning-hijau di sini? Untuk apa kita menurut jika dipaksa berhenti dari kesibukan kita sendiri? Belum lagi, Polantas yang tidak pernah mau mengerti dengan keadaan kita yang mendesak. Apa perlunya helm? Apa perlunya lampu dihidupkan di siang hari?

Apa gunanya semua itu?

Untuk menjaga keselamatan dan menghindar dari risiko kecelakaan? Ah, ini nyawa kita sendiri, kan? Hidup dan mati sudah ditentukan.  Apa urusannya dengan mereka?

***

Sementara kehidupan kota baru saja dimulai. Orang-orang berpakaian rapi sedang mengemudi. Buruh-buruh pabrik melangkahkan kakinya di gigir jalan kota yang panjang. Kendaraan berhiliran. Jam setengah tujuh kehidupan kota sudah bersalin rupa menjadi objek perjalanan hidup sebagian besar manusia.

Tanganmu masih melingkar. Kini semakin erat. Entah perasaan apa yang membimbing tangan kiriku memegang tanganmu. Ada debar yang terasa... Ada ketenangan yang tercipta.

“Kamu tidak perlu memberikan apa-apa kepadaku,” aku berusaha menenangkan perasaanmu, “Kita bisa merayakan ulang tahunku bersama-sama, kan? Jalan-jalan keliling kota, misalnya.”

Semoga kau bisa menerima pernyataanku. Aku tidak ingin membuang-buang uang orang lain hanya untuk urusan pribadiku. Memang uang tidak akan sepenuhnya dibuang lantas hilang, ia ditukar benda dengan wujud lain. Tetapi apa bedanya? Menukar uang dengan sebuah benda untuk kemudian diberikan kepadaku hanya akan membuat kesenanganku sendiri, kan? Sementara orang lain hanya bisa merasa lega setelah melepaskan keinginannya untuk memberi sesuatu kepadaku. Lebih baik kita rayakan bersama saja.

“Eh, iya, aku setuju.”

Ah ya, itu lebih baik. “Waktu memang tidak pernah tua, Sayang. Tetapi ia selalu menjadi subjek yang bisa menyulutkan sumbu usia kita. Seringkali kita tidak sadar dengan usia kita yang semakin hari semakin mengurang. Orang-orang kebanyakan selalu tampak bangga dengan bertambahnya angka dalam usia mereka.” Kamu mendengarkanku berbicara, “Maka aku tidak ingin menghilangkan sepersekian detik umurku untuk mengharapkan sesuatu-benda-hadiah dari orang lain, termasuk kamu.”

Seperempat jam lagi jam tujuh. Kita sudah sampai sekolahan.

Di parkiran, kita memulai kehidupan kita seperti biasanya: menjadi anak remaja yang menularkan senyumnya terhadap kekasihnya. Kedipan matamu, jabat tanganmu, senyummu, dan suaramu menjadi pengganti uang sakuku di sekolahan. Tak ada yang lebih baik darinya.

Dan aku tidak akan pernah bosan berkata kepadamu: “Pulang sekolah aku tunggu di sini.”

Jadi, kado apa yang kamu inginkan dari seseorang untuk ulang tahunmu seminggu lagi? Tak ada. :-)

Tegalsari,
Kamis, 14 Maret 2013

11:25 pm

0 komentar:

Posting Komentar