Bapak Calon Kepala Desa yang baik,
Nanti apabila Bapak berhasil terpilih menjadi kandidat terkuat dan
memiliki suara terbanyak kemudian menjadi pemenang pemilihan umum calon kepala
desa di desa kami, kami harap Bapak tidak melupakan kami, sebagai pendukung
setia Bapak.
Harapan kami sederhana: Nanti apabila Bapak dilantik bersama
perangkat-perangkat Bapak yang lain, jangan sampai sedikitpun Bapak berpikir
bahwa Bapak adalah orang nomor satu di desa kami. Sebab jika demikian, kami
sama sekali tidak meridhoi Bapak sebagai Kepala Desa kami. Tetapi kami mengerti
Bapak orang pintar dan berpendidikan. Kami berpesan kepada Bapak: Jangan sampai Bapak melupakan kami!
Kami percaya Bapak adalah orang baik dan bukan termasuk golongan
orang-orang yang pura-pura baik sebagai pencitraan belaka seperti orang
kebanyakan yang ingin mencalonkan dirinya sebagai pemimpin masyarakat. Jangan, Pak...
jangan!
Dan apabila Bapak sudah duduk di kursi berlabel ‘Kepala Desa’, kami
harap Bapak tidak melupakan visi-misi Bapak: “Bersama Kita Membangun Tegalrejo
sebagai Desa Berekonomi, Budaya, Pendidikan dan Olah Raga yang Berwawasan
Lingkungan”. Semoga Bapak tidak lupa itu, tentu saja. Sebab biasanya, pemimpin
zaman sekarang selalu mementingkan urusannya sendiri—menggelembungkan uang
rakyat untuk anak-istri.
Lalu jika Bapak berlaku adil terhadap kami, tentu saja kami akan selalu
ada di belakang Bapak untuk melindungi Bapak dari marabahaya sekaligus mendukung
kinerja Bapak: Apa saja yang terbaik untuk desa kami ke depan, kami
mendukungnya.
Maka sekali lagi, jangan sampai Bapak mengotori kepercayaan kami.
Jangan melupakan kami, atas nama anak yatim, yang terlalu jarang bisa menikmati
jajanan-makanan enak yang cuma bi(a)sa kami lihat di televisi. Jangan melupakan
kami, atas nama manusia lanjut usia, yang selalu dianggap sebagai pemalas dan
pembuat repot negeri. Jangan lupakan kami, atas nama remaja, yang banyak
membuang sebagian besar umurnya untuk keluar kota mencari kerja sebab tak ada
yang bisa diandalkan di desa. Jangan melupakan kami, atas nama rakyat miskin,
yang melulu tak pernah punya penghasilan cukup.
Dan jangan sampai sekali-kali Bapak melupakan kami, keluarga besar
manusia yang hidup di desa yang Bapak pimpin. “Kullukum ro’in wa kullukum mas’ulun an ro’iyyatih...”. Sungguh,
kelak kepemimpinan Bapak akan dipertanyakan di masa setelah dunia. Maka jangan
sampai mengacak-acak kebanggaan kami sebagai keluarga besar manusia yang hidup
di desa ini: Seluruh manusia yang hidup
di bawah kepemimpinan Bapak sedang menunggu kabar gembira dari Bapak.
Atas nama seluruh rakyat yang berpijak di desa yang sekarang sedang
Bapak pimpin, kami menyerahkan amanat kepada Bapak!

0 komentar:
Posting Komentar