Jumat, 07 Februari 2014

Aku kembali menemukan angin di matamu—memorak-porandakan tatapanmu yang dulu lugu. Kupikir, tempo lalu aku ingin mengajakmu berdansa dan menari dalam pesta yang kubikin sendiri.

Akan kubawakan lagu cinta yang kuciptakan dari kagumku. Kupetikkan gitar yang terbuat dari senar-rambutmu. Sementara, matamu yang lugu merenggut separuh jiwaku. Maka aku akan menyanyikan lagu itu:

Kau yang berdetak di jantungku/
merampas sebagian besar debarnya/
dari matamu yang lugu/
aku tergugu dibuatmu//

Dan kau adalah nadiku/
yang berdenyut denganku/
dan kakimu yang jenjang/
buatku tak berdaya mengikutimu//

Tergugu aku dibuatmu//
tergugu aku dibuatmu//

Duhai! Kupikir itu indah—jika kau dan aku menari dan berdansa dalam pesta kita berdua: kurasa itu segalanya. Tetapi angin di matamu kini memilih menari sendiri, berdansa bersama badai, berpesta dalam benci.

Kini aku terpelanting jauh. Pesta malamku yang semula ingin kurayakan bersamamu rubuh akibat angin di matamu itu. Dan aku sendirian dan jadi ketakutan, di sini… . Terpelanting aku di sapu angin di matamu yang dulu lugu.

Tegalsari,
Sabtu, 8 Februari 2014

—05:35 am
*Gambar dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar