Aku kembali menemukan angin di matamu—memorak-porandakan
tatapanmu yang dulu lugu. Kupikir, tempo lalu aku ingin mengajakmu berdansa dan
menari dalam pesta yang kubikin sendiri.
Akan kubawakan lagu cinta yang kuciptakan dari kagumku. Kupetikkan
gitar yang terbuat dari senar-rambutmu. Sementara, matamu yang lugu merenggut
separuh jiwaku. Maka aku akan menyanyikan lagu itu:
Kau yang berdetak
di jantungku/
merampas sebagian besar
debarnya/
dari matamu yang
lugu/
aku tergugu
dibuatmu//
Dan kau adalah
nadiku/
yang berdenyut
denganku/
dan kakimu yang
jenjang/
buatku tak berdaya
mengikutimu//
Tergugu aku
dibuatmu//
tergugu aku
dibuatmu//
Duhai! Kupikir itu indah—jika kau dan aku menari dan
berdansa dalam pesta kita berdua: kurasa itu segalanya. Tetapi angin di matamu
kini memilih menari sendiri, berdansa bersama badai, berpesta dalam benci.
Kini aku terpelanting jauh. Pesta malamku yang semula
ingin kurayakan bersamamu rubuh akibat angin di matamu itu. Dan aku sendirian
dan jadi ketakutan, di sini… . Terpelanting aku di sapu angin di matamu yang
dulu lugu.
Tegalsari,
Sabtu, 8 Februari 2014
—05:35 am
*Gambar dari sini.


0 komentar:
Posting Komentar