Dalam hidup, ada sebagian hal yang bisa kita
jalani bersama, sementara bagian yang lain, mesti kita jalani
sendiri(-sendiri). Tak semua hal yang telah-sedang-dan-akan kita kerjakan harus
diikat dalam satu kata ‘kebersamaan’.
Barangkali aku akan menolongmu saat hujan
lebat serta badai tengah melanda desa kita. Sementara, kau terjebak di dalam
rumahmu. Kita, kau dan aku, akan sama-sama saling merespon; rasa cemas satu
sama lain akan menjelma tumbuh dalam dada kita berdua.
Lalu, mata kita akan saling mencari atau
mengamati wajah-wajah yang sama kita kenali. Dan bila mataku tak kunjung
berhasil menemukanmu, aku akan memanggil-panggil namamu—sekeras mungkin.
Ya. Aku akan memanggil namamu. Dengan keras!
Sementara suaraku yang memekik tak berbalas,
aku akan mencoba cara lain: dengan berusaha menanyakan pada orang-orang sekitar,
apakah mereka melihatmu? Mungkin saja ada yang tak sengaja sekelebat melihatmu
terjebak di tengah badai-hujan, tetapi mereka tak sempat menolongmu sebab di ujung,
seorang balita menjerit ketakutan—dan mereka, orang-orang, menolong balita itu
lebih dulu?
Pada saat itu, barangkali aku akan berusaha menolongmu—meloloskanmu
dari ancaman badai yang menakutkan itu... .
Tetapi, itu tadi, kadang hidup tak melulu tentang
kebersamaan. Mungkin, suatu ketika, kita akan saling berpisah, menjalani hidup
sendiri-sendiri. Dan jika saat itu terjadi, wajah kita kemudian akan berpaling:
Aku, tak terkecuali.
Sebelum mereka datang, dan sebelum mereka
menjemput kita di sudut gang, mari kita saling mengucapkan kalimat itu: Maafkan
atas apa saja yang telah terjadi, atas apa saja yang tengah terjadi, juga atas
kejadian yang akan datang—yang akan terjadi.
Persahabatan kita barangkali tak sempurna,
seperti tak sempurnanya aku di matamu. Seperti juga rembulan di atas sana,
setiap kita memiliki sisi gelap.
Blokagung,
Rabu, 5 Februari 2014
—saat diniah, menunggu wali kelas


0 komentar:
Posting Komentar