Sabtu, 11 Januari 2014

Tak perlu kaubawa lari pikiranmu. Percuma! Yang ada, ia akan semakin manja dan ingin singgah ke mana-mana: Menjadi sangkaan buruk sekaligus busuk.

Aku melengang mendengar suara itu. Suara yang entah siapa yang mengucap, dari mana asalnya, dan apakah ia ditujukan padaku? Aku tak benar-benar tahu. Tapi perasaan dari dalam diriku mengatakan seperti itu.

Hei, siapa gerangan sang pemilik suara!? Aku mulai mengajukan pertanyaan pada keadaan sekitarku. Namun begitulah, tak ada jawaban. Aku mulai curiga dan menerka-terka ihwal apa maksud dari suara yang tak jelas siapa pemiliknya: inikah solusi itu?

Akhir-akhir ini, keadaan hatiku memang agak berbeda dari biasanya: Aku sering emosi, dan ini sangat menyiksa diriku sendiri! Sungguh sebuah hal yang sangat tak kusuka. Bah!

“Biarkan pikiranmu itu di sini, mengembang di sini; lantas menjadi optimistis yang kekar nan tinggi.”

Suara itu kembali terdengar oleh telingaku. Apa maksud dari semua ini? Belum usai rasa penasaranku, aku kembali dipaksa untuk mendengarkan nasihat yang, ah, sama sekali tak kuinginkan! Hei, apa maksud dari semua ini? Tanya-batinku, lagi.

Seolah sedang berdialog denganku, suara misterius itu menjawab kata hatiku.

Sebab Hidup berjalan sesuai yang kaupikirkan, maka yakinlah pada hidup yang kaujalani!”

Suara itu, ah, intonasinya makin besar—seperti menggeretak!

Hening merambat di ruangan 4x4 meter persegi, kamar tidurku. Dalam gelap, ingatanku mulai berguguran. Sementara, aku mencoba memungutinya, satu per satu.

Sebulan yang lalu, aku mengalami depresi akibat Rany—perempuanku—memutuskan hubungan kami berdua yang sudah empat tahun berjalan. Ya, sejak sebulan yang lalu, kami sudah tak ada ikatan lagi. Aku sungguh kecewa dengan keputusan ini, tentu saja. Bagaimana tidak? Di awal, kami sudah berkomitmen untuk menjalin hubungan dengan serius. Bahkan kedua orangtua kami sudah sama-sama setuju. Terlebih, kami sudah bertunangan!

Alasan Rany memutuskanku sangat tidak masuk akal, menurutku. Saat kutanya kenapa, dia menjawab: Kita memang tidak jodoh. Sejurus kemudian, ia pergi naik taksi, entah ke mana? Tak sempat kutanya lebih dalam tentang ini-itu, aku sudah ditinggal pergi lebih dulu!

Berkali aku mencoba menghubungi Rany, baik via SMS, BBM, juga telepon. Tapi sayang, sama sekali tidak ada jawaban dari Rany! Sempat aku bertandang ke rumahnya. Hasilnya? Sial! Dia sudah pindah rumah, entah ke mana?

Saat itu, aku benar-benar terpuruk! Ingin rasanya menjatuhkan diriku dari lantai 5 kampusku! Tapi aku tahu, itu tak akan mengurangi masalahku. Akhirnya kuputuskan untuk mengunci diriku dalam kamar.

Seminggu usai kejadian itu, aku mendengar bahwa Ayahku yang bekerja di luar negeri meninggal dunia setelah terpeleset jatuh dari gedung lantai 33! Bahkan, saat jenazah Ayah akan dipulangkan, pesawat yang membawa  jenazah Ayah mengalami kecalakaan. Dikabarkan bahwa pesawat tersebut jatuh di laut Jawa, dan hingga kini, bangkai pesawat, pilot serta para penumpang, termasuk jenazah Ayah tak diketemukan.

Belum pulih luka di dadaku akibat kematian Ayah, dompetku—yang berisikan KTP, ATM, serta uang 2 juta yang semula ingin kubuat melunasi pembayaran kampus—dicopet orang yang tak punya nurani! Kali ini hatiku benar-benar pecah berkeping-keping!

Akibatnya, aku mengalami depresi berkepanjangan. Aku mulai khawatir tentang semuanya: Apa aku sanggup melanjutkan kuliahku? Apakah aku mampu berjalan di atas penderitaan yang sangat berat ini? Dapatkah aku melanjutkan hidup ini? Aku sangsi. Aku ragu. Aku tak yakin.

***

 Tanpa sadar, di tengah aku memunguti ingatan-kesedihanku yang berguguran, airmataku melinang di kedua pipiku hingga basahlah wajahku.

Di sini, dalam ruangan 4x4 meter persegi, aku menekuri kehidupanku yang gelap dan tiada arah. Sejujurnya aku masih ragu: akankah cahaya segera terbit dalam kehidupan milikku?

“ Kau takut? Jangan takut, kamu tak sendiri,”  Tiba-tiba, setelah sekian jam aku berada di sini sembari mengusap airmataku yang tak kunjung henti, suara misterius itu kembali menasihatiku—dengan bijaknya.

“Jika masih ragu, tanyakan pada-Nya. Bahkan jauh sebelum pertanyaanmu itu muncul, Dia telah lebih dulu mencipta jawabannya: Ana 'inda dzanni abdi bi, Aku seperti yang disangkakan hambaKu kepadaKu.”

Aku terdiam dari isak. Kupejamkan mataku yang sebam. Kuberesi kemurunganku—rasa ragu yang ada di dadaku. Pelan-pelan lalu kupunguti dan kukemasi kata-kata tentang harapan-cinta-masa-depan untuk kemudian kumasukkan dalam ransel hitam.

Dalam hening malam ini, aku kemudian menggumam doa paling sederhana yang sejak kecil terus kugunakan khusus untuk situasi semacam ini: Situasi yang manjatuhkan—yang memaksaku harus larut dalam sungai kesedihan. Maka kuputuskan mengepalkan tangan, kutegakkan lagi kepalaku, kuseka airmataku. Dan doa itu, terus menyala dalam hatiku: “Semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja.”

Dan aku percaya dengan Tuhanku!
Tegalsari,
Rabu, 08 Januari 2014
—05:25 pm
*Gambar diambil dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar