“Tak perlu kaubawa lari pikiranmu.
Percuma! Yang ada, ia akan semakin manja dan ingin singgah ke mana-mana:
Menjadi sangkaan buruk sekaligus busuk.”
Aku melengang mendengar suara itu. Suara yang entah siapa yang mengucap, dari
mana asalnya, dan apakah ia ditujukan padaku? Aku tak benar-benar tahu. Tapi
perasaan dari dalam diriku mengatakan seperti itu.
Hei, siapa gerangan sang pemilik suara!? Aku mulai mengajukan pertanyaan pada
keadaan sekitarku. Namun begitulah,
tak ada jawaban. Aku mulai curiga dan menerka-terka ihwal apa maksud dari suara yang tak
jelas siapa pemiliknya: inikah solusi itu?
Akhir-akhir ini, keadaan hatiku memang agak berbeda dari biasanya: Aku
sering emosi, dan ini sangat menyiksa diriku sendiri! Sungguh sebuah hal yang sangat
tak kusuka. Bah!
“Biarkan pikiranmu itu di sini, mengembang di sini; lantas menjadi
optimistis yang kekar nan tinggi.”
Suara itu
kembali terdengar oleh telingaku. Apa maksud dari semua ini? Belum usai rasa
penasaranku, aku kembali dipaksa untuk mendengarkan nasihat yang, ah, sama
sekali tak kuinginkan! Hei, apa maksud dari semua ini? Tanya-batinku,
lagi.
Seolah
sedang berdialog denganku, suara misterius itu menjawab kata hatiku.
“Sebab Hidup berjalan sesuai yang
kaupikirkan, maka yakinlah pada hidup yang kaujalani!”
Suara itu, ah, intonasinya makin besar—seperti menggeretak!
Hening merambat di ruangan 4x4 meter persegi, kamar tidurku. Dalam gelap,
ingatanku mulai berguguran. Sementara, aku mencoba memungutinya, satu per satu.
Sebulan yang lalu, aku mengalami depresi akibat Rany—perempuanku—memutuskan
hubungan kami berdua yang sudah empat tahun berjalan. Ya, sejak sebulan yang
lalu, kami sudah tak ada ikatan lagi. Aku sungguh kecewa dengan keputusan ini,
tentu saja. Bagaimana tidak? Di awal, kami sudah berkomitmen untuk menjalin
hubungan dengan serius. Bahkan kedua orangtua kami sudah sama-sama setuju.
Terlebih, kami sudah bertunangan!
Alasan Rany memutuskanku sangat tidak masuk akal, menurutku. Saat kutanya
kenapa, dia menjawab: Kita memang tidak jodoh. Sejurus kemudian, ia pergi naik
taksi, entah ke mana? Tak sempat kutanya lebih dalam tentang ini-itu, aku sudah
ditinggal pergi lebih dulu!
Berkali aku mencoba menghubungi Rany, baik via SMS, BBM, juga telepon. Tapi
sayang, sama sekali tidak ada jawaban dari Rany! Sempat aku bertandang ke
rumahnya. Hasilnya? Sial! Dia sudah pindah rumah, entah ke mana?
Saat itu, aku benar-benar terpuruk! Ingin rasanya menjatuhkan diriku dari
lantai 5 kampusku! Tapi aku tahu, itu tak akan mengurangi masalahku. Akhirnya
kuputuskan untuk mengunci diriku dalam kamar.
Seminggu usai kejadian itu, aku mendengar bahwa Ayahku yang bekerja di luar
negeri meninggal dunia setelah terpeleset jatuh dari gedung lantai 33! Bahkan,
saat jenazah Ayah akan dipulangkan, pesawat yang membawa jenazah Ayah mengalami kecalakaan. Dikabarkan
bahwa pesawat tersebut jatuh di laut Jawa, dan hingga kini, bangkai pesawat,
pilot serta para penumpang, termasuk jenazah Ayah tak diketemukan.
Belum pulih luka di dadaku akibat kematian Ayah, dompetku—yang berisikan
KTP, ATM, serta uang 2 juta yang semula ingin kubuat melunasi pembayaran
kampus—dicopet orang yang tak punya nurani! Kali ini hatiku benar-benar pecah
berkeping-keping!
Akibatnya, aku mengalami depresi berkepanjangan. Aku mulai khawatir tentang
semuanya: Apa aku sanggup melanjutkan kuliahku? Apakah aku mampu berjalan di
atas penderitaan yang sangat berat ini? Dapatkah aku melanjutkan hidup ini? Aku
sangsi. Aku ragu. Aku tak yakin.
***
Tanpa sadar, di tengah aku
memunguti ingatan-kesedihanku yang berguguran, airmataku melinang di kedua
pipiku hingga basahlah wajahku.
Di sini, dalam ruangan 4x4 meter persegi, aku menekuri kehidupanku yang
gelap dan tiada arah. Sejujurnya aku masih ragu: akankah cahaya segera terbit
dalam kehidupan milikku?
“ Kau takut? Jangan takut, kamu tak sendiri,” Tiba-tiba, setelah sekian jam aku berada di
sini sembari mengusap airmataku yang tak kunjung henti, suara misterius itu
kembali menasihatiku—dengan bijaknya.
“Jika masih ragu, tanyakan pada-Nya. Bahkan jauh sebelum pertanyaanmu itu
muncul, Dia telah lebih dulu mencipta jawabannya: Ana 'inda dzanni abdi bi, Aku
seperti yang disangkakan hambaKu kepadaKu.”
Aku terdiam dari isak. Kupejamkan mataku yang sebam. Kuberesi
kemurunganku—rasa ragu yang ada di dadaku. Pelan-pelan lalu kupunguti dan kukemasi
kata-kata tentang harapan-cinta-masa-depan untuk kemudian kumasukkan dalam
ransel hitam.
Dalam hening malam ini, aku kemudian menggumam doa paling sederhana yang
sejak kecil terus kugunakan khusus untuk situasi semacam ini: Situasi yang
manjatuhkan—yang memaksaku harus larut dalam sungai kesedihan. Maka kuputuskan
mengepalkan tangan, kutegakkan lagi kepalaku, kuseka airmataku. Dan doa itu,
terus menyala dalam hatiku: “Semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik
saja.”
Dan aku percaya dengan Tuhanku!
Tegalsari,
Rabu, 08 Januari 2014
—05:25 pm
—05:25 pm
*Gambar diambil dari sini.


0 komentar:
Posting Komentar