Minggu, 16 Februari 2014

: Iin, Saudaraku

Langit melukis wajah-wajah berona saat jam menunjuk pukul setengah lima. Senja mempertemukan mataku dengan alismu yang tersipu. Kau memegang tanganku erat-erat. Aku menengokmu yang tersenyum menatap senja di langit sana.

Matamu bercahaya.

Sementara, jari-jarimu yang mungil mengisi ruang-ruang kosong di tanganku. Aku merasakan keutuhan itu ada: Kau adalah anak kecil yang berhasil menarik senyumku. Dan kau adalah anak kecil yang kutahu luar biasa, beda dengan yang lainnya. Kuyakin itu.

Di sampingmu, aku menjadi lelaki kecil yang mengulas senyumnya. Dibuatmu aku bahagia. Lalu aku tak bisa berkata-kata saat kau mengucapkan “terima kasih” yang kauracik sedemikian rupa, dengan nada-nada manja.

Entah bagaimana caranya, dadaku tiba-tiba bergetar lebih hebat dari biasanya. Bibirku tiada kuasa menahan reaksi atas ucapanmu barusan. Dan aku, aku tersenyum bangga.

Jika mungkin, maka ingin kujadikan telingaku ini sebagai alat perekam paling sempurna... untuk merekam getar-suaramu-yang-manja. Lalu, ia akan kusimpan sendiri, kubuatkan folder dalam memori pribadi untuk kemudian kuputar berulangkali. Dan berulangkali. Kujadikan ia musik latar, tak cuma sesekali tetapi seringkali.

Demikianlah senja setahun silam.

Kini, sudah lama sekali aku tak mendengar suaramu yang mengalun manja dan menari-nari di telingaku. Seperti juga sudah lama pula jemarimu yang mungil itu tak memegang tanganku yang rindu. Sejak 4 Desember 2012 yang lalu, kau pergi dengan alasan yang tak masuk akal… sulit dimengerti. Dan aku jadi sendiri, di sini.

Mungkin, inilah rindu: Saat aku sering memutar suaramu yang samar. Tentang dua anak kecil yang menghabiskan sorenya untuk menatap senja dan pulang ketika langit mulai meremang.

Mungkin, inilah kenangan: Saat aku meneguk sejumlah rindu tentangmu.

Ya. Mungkin inilah kepedihan: Saat aku mendambamu di sampingku untuk membelai punggung tanganku yang rindu, kau mustahil datang.

Dan mungkin juga, dua anak kecil yang pernah bermain di bawah senja pukul setangah lima kini tengah lupa akan jalan pulang.

Tegalsari,
Kamis, 12 Februari 2014
—01:09 pm
*Gambar diambil dari sini.

0 komentar:

Posting Komentar