: Iin, Saudaraku
Langit melukis wajah-wajah berona saat jam menunjuk
pukul setengah lima. Senja mempertemukan mataku dengan alismu yang tersipu. Kau
memegang tanganku erat-erat. Aku menengokmu yang tersenyum menatap senja di langit
sana.
Matamu bercahaya.
Sementara, jari-jarimu yang mungil mengisi
ruang-ruang kosong di tanganku. Aku merasakan keutuhan itu ada: Kau adalah anak
kecil yang berhasil menarik senyumku. Dan kau adalah anak kecil yang kutahu
luar biasa, beda dengan yang lainnya. Kuyakin itu.
Di sampingmu, aku menjadi lelaki kecil yang
mengulas senyumnya. Dibuatmu aku bahagia. Lalu aku tak bisa berkata-kata saat
kau mengucapkan “terima kasih” yang kauracik sedemikian rupa, dengan nada-nada
manja.
Entah bagaimana caranya, dadaku tiba-tiba
bergetar lebih hebat dari biasanya. Bibirku tiada kuasa menahan reaksi atas
ucapanmu barusan. Dan aku, aku tersenyum bangga.
Jika mungkin, maka ingin kujadikan telingaku
ini sebagai alat perekam paling sempurna... untuk merekam getar-suaramu-yang-manja.
Lalu, ia akan kusimpan sendiri, kubuatkan folder dalam memori pribadi untuk
kemudian kuputar berulangkali. Dan berulangkali. Kujadikan ia musik latar, tak cuma
sesekali tetapi seringkali.
Demikianlah senja setahun silam.
Kini, sudah lama sekali aku tak mendengar suaramu yang
mengalun manja dan menari-nari di telingaku. Seperti juga sudah lama pula jemarimu
yang mungil itu tak memegang tanganku yang rindu. Sejak 4 Desember 2012 yang lalu, kau
pergi dengan alasan yang tak masuk
akal… sulit dimengerti. Dan aku jadi sendiri, di sini.
Mungkin, inilah rindu: Saat aku sering memutar
suaramu yang samar. Tentang dua anak kecil yang menghabiskan sorenya untuk
menatap senja dan pulang ketika langit mulai meremang.
Mungkin, inilah kenangan: Saat aku meneguk sejumlah
rindu tentangmu.
Ya. Mungkin inilah kepedihan: Saat aku
mendambamu di sampingku untuk membelai punggung tanganku yang rindu, kau
mustahil datang.
Dan mungkin juga, dua anak kecil yang pernah
bermain di bawah senja pukul setangah lima kini tengah lupa akan jalan pulang.
Tegalsari,
Kamis, 12 Februari 2014
—01:09 pm*Gambar diambil dari sini.


0 komentar:
Posting Komentar